Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, August 8, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Tren Puasa Intermiten, Bantu Perlambat Penuaan

Sumber foto: Harvard Health

Topcareer.id – Puasa intermiten telah menjadi salah satu tren nutrisi yang tumbuh paling cepat tahun ini. Dan semakin banyak studi yang mendukung tren ini dengan bukti ilmiah. Bahkan diet ini dinilai dapat menangkal penyakit.

Menurut sebuah artikel ulasan yang diterbitkan 26 Desember di New England, Jurnal Kedokteran, puasa intermiten membantu mengontrol gula darah, dan menyebabkan penurunan berat badan bahkan tanpa mengurangi kalori.

Para peneliti meninjau lebih dari 70 studi yang diterbitkan tentang jenis-jenis puasa intermiten yang paling umum. 

Metode 5: 2 (makan secara normal selama lima hari seminggu dan puasa dua hari lainnya). Berpuasa setiap hari, atau membatasi makan setiap hari ke periode waktu yang lebih kecil (sering enam hingga delapan jam dan puasa 16 hingga 18 jam sehari).

Para penulis menemukan bahwa puasa intermiten dapat membantu memperlambat penuaan dan penyakit yang berkaitan dengan usia seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes. Ini juga dapat membantu menurunkan berat badan dan lemak.

Yang lebih menjanjikan, manfaat puasa intermiten tidak hanya terlihat pada orang yang menurunkan berat badan. Para peneliti berpikir proses tambahan, yang disebut perpindahan metabolik, adalah penyebab sebagian besar manfaat puasa intermiten, menurut penelitian.

“Titik transisi di mana kita dapat segera mempertimbangkan menambahkan informasi tentang puasa intermiten ke kurikulum sekolah kedokteran di samping saran standar tentang diet dan olahraga yang sehat,” kata Mark Mattson, seorang ilmuwan saraf di John Hopkins Medicine, dalam laman Insider.

Metabolic switching

“Metabolic switching” dapat memberikan manfaat bahkan setelah kamu makan lagi. Biasanya, sejenis gula sederhana yang disebut glukosa adalah sumber energi utama manusia.

“Kami mendapatkan glukosa dari makanan, dan terutama karbohidrat, yang diubah oleh sistem pencernaan kita menjadi glukosa,” menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Namun, selama puasa, tubuh harus menggunakan sumber energi yang berbeda sehingga hati memecah asam lemak menjadi keton, yang bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Puasa intermiten, bagaimana pun, memungkinkan tubuh untuk beralih di antara dua sumber energi, glukosa dan keton, dalam proses yang disebut “perpindahan metabolik,” penelitian baru menemukan.

Editor: Feby Ferdian

Leave a Reply