Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, August 11, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Beda Pekerja Amatir dan Profesional, Kamu Tergolong yang Mana?

Dok. Digital School

Topcareer.id – Salah satu cara untuk menjadi lebih baik atau bahkan ahli dalam apapun, adalah dengan menghabiskan waktu atau fokus dalam mengerjakannya. Tapi, bagaimana bisa ahli kalau ternyata kamu tidak konsisten? Apakah sudah bisa disebut sebagai profesional?

Jawabannya mungkin ada pada perbedaan antara profesional dan amatir. Perbedaan sepenuhnya didasarkan pada kebiasaan dan pola pikir mereka. Mayo Oshin, penulis soal ilmu perilaku dan produktivitas berbagi perbedaan antara profesional dan amatir, seperti dikutip dari laman The Ladders.

1. Amatir menunggu inspirasi, profesional tetap pada jadwal

Para amatir hanya bekerja dan berlatih ketika mereka merasa termotivasi untuk melakukannya. Mereka menunggu inspirasi, atau izin dari orang lain, untuk mengambil tindakan terhadap tujuan mereka, misal untuk berolahraga, menulis lebih banyak, dan seterusnya.

Sementara, para profesional tidak membiarkan perasaan mereka mendikte tindakan mereka. Mereka sengaja membuat dan tetap berpegang pada jadwal datangnya hujan atau cerah.

Baca juga: Kuis: Apakah Kamu Tipe Pekerja Menyebalkan?

2. Amatir fokus pada tujuan. Profesional fokus pada kebiasaan

Amatir terobsesi dengan hasil. Mereka mencari kepuasan instan dari hasil cepat dan bahkan sebisa mungkin ‘berlari cepat’ menuju kesuksesan. Mereka berjuang dengan ‘perlawanan’ dan penundaan karena fokus mereka yang kuat pada hasil akhir.

Profesional memperlakukan kesuksesan seperti maraton dan bukan lari cepat. Mereka fokus pada pengembangan kebiasaan yang secara alami. “Itu akan membantu mereka untuk mencapai tujuan mereka sebagai produk sampingan,” tulis Oshin.

3. Amatir berusaha keras untuk mencapai sesuatu. Profesional berusaha untuk meningkatkan kemampuannya

Sama seperti pelari rekreasi yang sedang mempersiapkan maraton, para amatir berjuang untuk pencapaian penyelesaian maraton. Setelah maraton, pelari tidak lagi berusaha untuk meningkatkan kecepatan lari mereka. Prestasi sekarang telah tercapai, sehingga insentif untuk tetap konsisten dengan latihan sangat sedikit.

Profesional memahami bahwa suatu prestasi hanyalah indikasi seberapa banyak mereka telah meningkat. Mereka fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan mencari cara baru untuk memperbaiki diri.

Baca juga: Kuis: Apakah Kamu Tipe Pekerja Menyebalkan?

4. Amatir berhenti setelah kegagalan. Profesional tumbuh setelah kegagalan

Amatir berusaha menghindari kegagalan dengan cara apapun. Mereka takut kritik dan terlalu khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang jika gagal. Amatir menyerah ketika dihadapkan dengan kesulitan dan tantangan berat. “Mereka tidak memiliki ketangguhan mental untuk maju dan berhasil,” tulisnya.

Profesional memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan yang tak terhindarkan dan perlu. Mereka memperlakukan kegagalan dan kritik seperti seorang ilmuwan. Membuang informasi yang tidak relevan dan menggunakan umpan balik yang relevan untuk menjadi lebih baik dalam apa yang mereka lakukan.

5. Amatir hidup untuk pendapat. Para profesional hidup demi kebenaran

Amatir mudah terombang-ambing oleh pendapat dan ‘praktik terbaik’ mayoritas orang di bidangnya. Dasar pengambilan keputusan seorang amatir adalah keyakinan mereka bahwa “Aku benar karena aku percaya aku benar.”

Para profesional secara aktif mempertanyakan berbagai asumsi yang ada tentang bagaimana hal-hal harus dilakukan. Proses pengambilan keputusan seorang profesional didasarkan pada objektivitas, bukan opini. Jenis pemikiran ini mencegah mereka dari membuat keputusan yang buruk. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply