Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, November 30, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Bagaimana Generasi Milenial Merayakan Imlek Hari Ini?

Ilustrasi. (dok The Star)

Topcareer.id – Imlek yang jatuh hari ini, Sabtu, 25 Januari 2020, terus dirayakan oleh warga etnis Tionghoa sebagai tradisi yang perlu dilestarikan, tak terkecuali oleh generasi milenial. Sejumlah keturunan Tionghoa generasi milenial yang diwawancarai Topcareer.id mengatakan mereka tetap merayakan Imlek bersama keluarga.

Angeline Djosef, seorang karyawan swasta yang bekerja di layanan video streaming premium di Jakarta mengatakan memulai perayaan dengan makan bersama keluarga di malam sebelum Imlek. Makan malam tersebut telah jadi tradisi di keluarganya sejak lama.

“Yang pastinya tiap malam Imlek kami ada kumpul makan-makan keluarga dan selalu makan di rumah,” katanya. “Lebih afdol buat makan masakan ibu ketimbang makan di restoran.”

Baca juga: Hujan Saat Imlek Dianggap Bawa Keberuntungan? Ini Alasannya!

Hal serupa juga dilakukan Thomas, wartawan olahraga sebuah situs berita. “Makan bersama dan bagi-bagi angpao,” katanya. Keluarga Lesley Simpson juga berkumpul untuk merayakan Imlek. “Kami makan bersama dan makanannya biasanya harus banyak,” ujar wanita yang bekerja Head of Business Development and Marketing PT Tencent Technology Indonesia (WeTV Indonesia).

Sementara itu, bagi keluarga Sarah Angela, Marketing Departement Head of Pedro PT. Kurnia Ciptamoda Gemilang (KCG) meski Imlek bukan hal wajib untuk dirayakan dengan makan malam bersama atau berbagi angpao, Imlek, katanya tetaplah momentum untuk “kumpul keluarga besar.”

“(Imlek) bukan menjadi tradisi wajib, namun jika jadwal keluarga besar mendukung maka akan diusahakan makan bersama demi kumpul-kumpul keluarga,” kata Sarah pada Topcareer.id, Jumat (24/1/2020) kemarin.

Makanan istimewa saat Imlek

Di momen makan bersama saat Imlek warga Tionghoa menyantap masakan istimewa. “Ada sekitar delapan macam lauk, ada sayur, ada daging,” kata Lesley. Masakan keluarga Angeline juga istimewa. “Chinese spring roll buatan ibu saya tak kalah sama restoran. Fried noodle-nya juga,” bilang Angeline. Ia juga menyebut fish ball dan sweet and sour soup sebagai makanan istimewa saat Imlek di keluarganya. “Semua makanan ibu selalu enak,” katanya.

Ilustrasi. (dok. iStock)

Selain makan bersama keluarga inti, Imlek juga ajang berkumpul buat keluarga besar, bertemu kerabat yang jarang bersua. “Pas hari Imlek semua saudara dan keluarga berkumpul, jd kadang ada saudara sepupu yang justru baru kita ketemuan pas hari Imlek,” cerita Angeline.

“Imlek mempertemukan yang jauh di mata tapi dekat di hati.Imlek adalah waktu untuk kumpul sama keluarga, pay respect to the elders and gathering.”

Baca juga: Selain Kue Keranjang, Ini Makanan Wajib saat Imlek

Hal yang sama juga dirasakan Lesley. “Di momen Imlek, keluarga dari jauh akan berkumpul untuk makan bersama, berbagi-bagi angpao, menengok keluarga yang lebih tua,” jelasnya.

Kenangan Imlek sewaktu kecil

Masing-masing juga memiliki kenangan Imlek ketika kecil yang terus diingat hingga kini. “Yang paling diingat Imlek bersama nenek sewaktu kecil,” kata Thomas. “Tapi sekarang nenek sudah meninggal.”

Sedangkan Sarah paling senang mendapat angpao ketika kecil. “Berhubung sekarang sudah dewasa dan menikah, jadi sekarang sudah tidak dikasih,” kata ibu satu anak ini.

Lesley paling ingat bermain barongsai bersama sepupu-sepupunya waktu kecil. “Waktu oma dan opa masih ada (hidup), kami kumpul keluarga besar. Ada banyak sepupu. Kami memakai kostum barongsai dan bermain. Karena sekarang sudah besar nggak pernah main itu lagi,” cerita Lesley.

Ilustarsi. (dok. Sputyx)

Angeline mengenang momen-momen bikin kue bareng ibunya ketika kecil. “Hari-hari menjelang Imlek biasanya kami semua bantu ibu bikin kue kering dan lain-lain, tapi sekarang kami lebih banyak menyajikan kue kering kiriman teman dan relasi,” kata Angeline.

Hobi bikin kue di keluarga diteruskan seorang kakaknya. “Beberapa tahun terakhir kakak saya yang hobi baking juga melestarikan tradisi baking kue kering juga, jadi kadang di gathering Imlek kami menyajikan signature cookies keluarga kami,” katanya.

Warga Tionghoa yang diwawancara Topcareer.id sepakat tradisi Imlek perlu dilestarikan. “Saya senang dengan sesuatu yang sifatnya kultural. Akan menyenangkan jika tradisi ini dilestarikan karena kemeriahannya,” kata Sarah.

“Imlek menjadi penting bagi orangtua saya dan otomatis anak-anaknya juga meneruskan tradisi ini,” simpul Angeline.

Sambutan mayoritas masyarakat Indonesia pun dirasa kian positif terhadap perayaan Imlek. Sejak awal 2000-an ketika almarhum Gus Dur jadi presiden Imlek dirayakan lebih terbuka. Hari Imlek juga jadi hari libur nasional.

“Sekarang makin berasa festivity dari perayaan Imlek di shopping mall dan tempat-tempat lainnya di Indonesia,” kata Angeline. “Cuma hari libur Imlek saja yang kurang banyak. Kalau di Singapura liburnya dua hari.” *

the authorAde Irwansyah

Leave a Reply