Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, Agustus 15, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Wabah Virus Korona: 238 WNI dari Wuhan Tiba, Warga Natuna Risau

Skrining WNI dari Wuhan yang tiba di Natuna, RI. (dok. Kemenskes)

Topcareer.id – Pesawat Batik Air yang ditugaskan menjemput 243 Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya terjebak di Kota Wuhan, provinsi Hubei, China akibat virus corona telah mendarat di Bandar Udara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau, pada Minggu pagi (2/2/2020).

Dilaporkan sebelumnya jumlah awal WNI yang akan pulang ke Indonesia ada 245 orang, namun jumlah yang pasti tiba di Indonesia ada 238 orang. berkurangnya jumlah tersebut lantaran sebanyak 4 WNI mengundurkan diri karena merasa lebih nyaman tinggal di sana, sedangkan 3 orang sisanya tidak lolos skrining oleh Pemerintah China.

Menteri Kesehatan RI dr. Terawan Agus Putranto mengatakan 238 WNI yang sudah tiba di Tanah Air dengan selamat, dipastikan belum bisa langsung bertemu dengan keluarga serta kerabat mereka. Hal ini karena mereka harus menjalani serangkaian tes kesehatan yang sesuai arahan WHO dan membutuhkan waktu sekitar 2 minggu.

Baca juga: Pesawat Batik Air Mendarat di Wuhan, China, Siap Evakuasi 250 WNI

“Kita cek ulang disini (Natuna), saya harus memastikan semua harus dalam kondisi baik. Apa yang di declare di Cina bahwa orang sehat yang boleh terbang, saya juga declare di sini (Natuna) bahwa mereka juga tetap sehat,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima Topcareer.id, Minggu (2/2/2020).

Meskipun 238 WNI tersebut sudah dinyatakan bebas dari virus corona dari pemerintah China dan dilakukan proses skrining ulang di Indonesia, namun masih membuat sebagian warga khususnya di Natuna resah hingga melakukan aksi demo untuk menolak arahan dari pemerintah pusat karena daerah mereka dijadikan tempat karantina bagi WNI yang baru datang dari Wuhan.

Para pendemo ini merasa belum ada jaminan yang pasti akan kesehatan 238 WNI tersebut. Mereka juga mempertanyakan mengapa pemerintah melakukan karantina di daerah mereka, meskipun fasilitas kesehaatannya belum mamadai. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorSherley Agnesia

Tinggalkan Balasan