Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, June 4, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Ini Masalah Kesehatan yang Harus Diwaspadai Pekerja Malam

Ilustrasi. (dok. Shutterstock)

Topcareer.id – Kamu karyawan yang sering kerja malam karena giliran shift? Atau pekerja kreatif yang kerap kerja hingga larut malam? Terkadang kita memang nggak punya banyak pilihan dalam bekerja. Demi sesuap nasi, malam jadi siang dan siang jadi malam harus dilakoni.

Hanya saja, mengubah jam biologis tubuh punya risiko yang harus ditanggung. Buat kamu yang bekerja malam harus sadar masalah kesehatan yang menghantui kamu. Apa sajakah itu?

Meningkatkkan risiko diabetes tipe 2
Hasil studi yang dimuat Occupational and Environmental Medicine mengatakan, orang yang bekerja shift menghadapi peningkatan risiko diabetes tipe dua sebesar 42 persen. Hal ini disebabkan karena kualitas tidur yang menurun, yang berpotensi melemahkan ressistensi insulin.

Baca juga: 10 Langkah Solusi Bagi yang Alami Sulit Tidur

Mengganggu fungsi otak
Suatu studi mengatakan pekerja malam memiliki hasil yang rendah dalam tes memori, keceptan mengolah informasi, dan hal yang berkaitan dengan kekuatan otak.

Menurunkan kesehatan mental
Pekerja malam dapat meningkatkan risiko kesehatan mental, seperti depresi,. Hal ini disebabkan karena sistem sirkadian (sistem yang mengatur pelepasan zat kimia yang berbeda dalam tubuh) yang terganggu. Sistem kerja shift juga berpotensi menurunkan kesejahteraan dan kebahagiaan kita.

Masalah kehamilan
Bekerja shift malam bagi yang tengah hamil risiko kesehatannya dua kali lebih besar. Bermain dengan jam biologis akan berdampak bagi kesehatan janin. Bahkan, sebuah penelitian di Denmark menyebut hal ini dapat meningkatkan risiko keguguran hingga 85 persen.

Risiko kanker meningkat
Menurut data dari US Nurses’ Health Study, perempuan yang bekerja di malam hari selama bertahun-tahun memiliki risiko terserang kanker payudara, usus besar, dan edomentarium. Hal ini berkaitan dengan hormon melatonin yang berkurang. Padahal, semakin besar hormone melatonin, semakin kecil pula risiko terserang kanker.* Dari berbagai sumber

the authorAde Irwansyah

Leave a Reply