Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, July 8, 2020
redaksi@topcareer.id
Kerja Dari Rumah

WFH Membuat Pekerja Takut Mengambil Cuti atau Ijin Sakit

Ilustrasi. (dok. Bigstock)

Topcareer.id – Pekerjaan jarak jauh yang banyak dilakukan di rumah atau working from home (WFH) yang banyak dilakukan saat ini menawarkan beberapa hal. WFH berarti mengurangi waktu perjalanan, bisa sambil menyelesaikan pekerjaan rumah atau mengenakan apa pun yang kamu inginkan.

Akan tetapi, WFH juga mengganggu rutinitas kerja, produktivitas, dan membuat tingkat stres yang meningkat.

Gara-gara WFH, kemampuan untuk mengambil ijin istirahat bagi diri sendiri terganggu. Mengutip penelitian di Australia, lebih dari sepertiga (35 persen) pekerja mengatakan mereka merasa terlalu takut untuk mengambil ijin sakit.

Petugas medis nasional Australia telah secara efektif melarang pekerja muncul di tempat kerja karena sakit, terutama selama pandemi virus corona.

Baca juga: WFH Banyak Gangguan di Rumah? Coba Lakukan Hal Ini

Tidak ada lagi adegan kepahlawanan dengan tetap datang bekerja ke kantor saat batuk dan pilek serta sakit tenggorokan. Tetapi bekerja dari rumah atau WFH berarti jika sakit, kamu akan menghadapi tantangan dalam melaporkan pada atasan bahwa dirimu sakit.

Ada “ironi tertentu” karena takut melapor sakit kepada atasan, mengingat pekerjaan dilakukan dari rumah. Merasa takut mungkin berasal dari kekhawatiran tentang ‘Apakah bos saya akan mempercayai saya? atau ‘Bagaimana cara mereka tahu saya benar-benar sakit?’

Untuk alasan apa pun, itu berasal dari asumsi tentang apa yang dipikirkan pemimpin. Padahal, WFH justru kesempatan untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan kepercayaan dengan manajer.

Baca juga: Kenakan Baju Warna Ini Bisa Tingkatkan Mood Kerja di Rumah

Kepercayaan adalah penangkal manusia dari rasa takut. Ketika kepercayaan ada, kedua belah pihak menganggap yang terbaik. Tanpa kepercayaan, yang terjadi adalah sebaliknya.

Sehubungan dengan kebutuhan untuk mengambil cuti sakit, komunikasi dan transparansi dengan atasan adalah kuncinya.

Memang benar bahwa bekerja dari rumah, terutama jika ini merupakan praktik baru bagi perusahaan, akan sering mengaburkan batas antara kehidupan profesional dan pribadi.

Penelitian mengungkapkan bahwa lebih dari dua pertiga (68 persen) pekerja merasa sulit untuk keluar dari pekerjaan, dan hampir tiga perempat (72 persen) dari orang Australia telah bekerja dengan jam kerja ekstra.

Fakta bahwa banyak yang secara efektif dikurung di rumah mungkin membuat merasa bersalah jika tidak dapat atau tidak mau bekerja di luar jam kerja biasa, dan perasaan ini dapat meluas hingga menimbulkan rasa takut untuk mengambil cuti pribadi atau tahunan.

Padahal sangat penting meluangkan waktu untuk kesehatan dan kesejahteraan, apakah itu untuk kesehatan fisik ataupun mental. Tim dan manajer harus berevolusi seiring dengan situasi. Jadi setiap orang harus menjaga pola pikir untuk beradaptasi dengan keadaan.

Banyak pekerja jadi merasa tidak aman dengan pekerjaan mereka selama pandemi, dan ini memengaruhi keputusan mereka mengambil cuti atau ijin sakit untuk beristirahat.

Namun ini seharusnya tidak menjadi masalah, dalam masa krisis seperti sekarang lebih penting daripada sebelumnya untuk menjaga kesejahteraan fisik dan mental. Mengambil ijin sakit ketika dibutuhkan adalah bagian penting. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply