Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, May 29, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Mengapa Meminta Maaf Sering Terasa Sangat Sulit Dilakukan?

Ilustrasi. (dok. Indosat Oreedo)

Topcareer.id – Idul Fitri atau lebaran jadi momen saling bermaaf-maafan. Namun mengapa meminta maaf terasa sulit dilakukan? Banyak orang suka menjadi penerima permintaan maaf, tetapi memberi berbeda dari menerima, dan itu lebih sulit.

Ada banyak alasan mengapa mengatakan “Maaf” adalah upaya yang sangat menantang. Pertama-tama, siapa yang suka mengakui bahwa mereka salah? Ini tidak menyenangkan!

Terkadang, rasa takut akan penolakanlah yang membuat permintaan maaf begitu sulit untuk diucapkan. Orang yang hendak dimintai maaf menjadi dingin, terkesan enggan menerima permintaan maaf, apalagi jika itu datang dari seseorang yang masih kamu cintai dan ingin mempertahankan hubungan dengannya. Terkadang orang merasa bahwa memulai permintaan maaf adalah tanda kelemahan.

Baca juga: 4 Aplikasi Andalan untuk Bersilaturahmi Saat Idul Fitri

Meminta maaf juga dapat membuat beberapa orang merasa rentan, atau merasa mereka dalam bahaya kehilangan kekuatan dan status mereka. Mengatakan “Maaf” dengan mengakui bahwa dirimu tidak memadai atau tidak kompeten sulit untuk dilakukan. Beberapa orang merasa mengatakan hal tersebut sangat memalukan.

Beberapa orang memilih untuk tetap menyangkal. Jika tidak ada pengakuan kesalahan, maka tidak perlu bertanggung jawab. Andai saja semudah itu. Beberapa pandangan mengatakan bahwa memberi permintaan maaf sama seperti menjadi “pecundang” dan orang yang menerima permintaan maaf adalah “pemenang.”

Orang yang salah perlu meminta pengampunan dari orang yang benar. Maklum, itu bukan pemikiran yang menyenangkan. Terkadang kebanggaan atau ego kamu yang menghalangi. Dan tentu saja mereka yang kurang memiliki rasa empati dapat mengalami kesulitan merangkul perasaan atau perspektif orang lain yang membuat meminta maaf seolah mustahil dilakukan. *

Editor: Ade Irwansyah

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply