Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, September 25, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Kisah Para Pembawa Mayat Korban Virus Corona yang Berjuang demi Uang

Topcareer.id – “Kematian, Kematian, dan kematian,” Néstor Vargas dan Luis José Cerpa bernyanyi mengikuti lantunan musik dari radio melalui masker wajah mereka, ketika mereka meluncur di jalanan dengan van mereka.

Mengenakan pakaian hazmat yang menutup seluruh tubuhnya mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, kedua lelaki itu mengumpulkan mayat-mayat orang yang meninggal karena Covid-19 di sekitar ibu kota Peru, Lima. Ini adalah pekerjaan yang tidak diinginkan orang karena potensi paparan virusnya. Tetapi dua imigran asal Venezuela ini mengambil risiko.

“Kami takut kami dapat terinfeksi dan membawanya pulang di mana saya tinggal bersama istri saya anak-anak dan ibu saya,” kata Vargas. Dia merengkuh ponselnya, menunjukkan foto istri dan anak-anaknya sebagai screensavernya.

Baca Juga: Inovasi Masa Pandemi: Tempat Tidur Rumah Sakit dari Kardus yang Bisa Menjadi Peti Mati

Seperti puluhan ribu orang lainnya, Vargas dan Cerpa datang ke Peru untuk melarikan diri dari keruntuhan ekonomi di dalam negeri. Menurut Badan Pengungsi PBB, hampir 5 juta penduduk telah melarikan diri dari Venezuela sejak 2016 dan setidaknya 870.000 berakhir di Peru.

Ini sebabnya di Peru banyak pekerja asal Venezuela yang bekerja dengan upah rendah untuk memenuhi kebutuhan atau mengirim dana ke rumah untuk orang-orang terkasih yang miskin di Venezuela.

Cerpa (21) adalah mahasiswa desain grafis sebelum melarikan diri ke Peru, di mana ia bekerja sebagai bartender dan pelayan. Vargas (38) bekerja di bisnis pemakaman di Venezuela tetapi juga memiliki pekerjaan sebagai pengemudi di perusahaan gas di Peru. Ketika virus menyebar ke seluruh wilayah, para turis lenyap dan bisnis menguburkan orang mati pun menjadi industri yang berkembang.

“Kami tidak bisa bekerja selama tiga bulan, dan kami perlu makan, membayar sewa, dan mengirim uang ke Venezuela,” kata Vargas. Dia dan Cerpa sekarang mendapatkan US $ 500 per bulan masing-masing untuk pekerjaan yang mereka lakukan, hampir dua kali lipat upah minimum di Peru. Mereka bekerja hingga 19 jam sehari, tujuh hari seminggu.

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply