Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, September 29, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Kasus COVID-19 Melambung Akibat Banyak Orang Muda yang Langgar Protocol

People wear protective face masks as they walk on Oxford Street in London, U.K., on Monday, Mar. 2, 2020. From stocking up on dried and frozen food to testing disaster planning, hedge funds and asset managers are preparing for a potential lockdown of the city as the coronavirus spreads around the world. Photographer: Simon Dawson/Bloomberg

Topcareer.id – Kelelahan psikologis akibat social distancing muncul sebagai tantangan utama untuk mengendalikan pandemi sekarang hingga berbulan-bulan ke depan.

Hal itu terutama terjadi pada kalangan orang dewasa muda yang tidak terlalu takut dengan virus corona, dan menderita biaya ekonomi dan sosial yang lebih besar ketika mereka hanya tinggal di rumah.

Dari Jepang ke Spanyol dan AS, infeksi di kalangan milenium dan Generasi Z memicu gelombang kasus baru yang tampaknya tidak berkurang meskipun diberlakukan kembali pembatasan.

Tren yang mengkhawatirkan ini mencerminkan bahwa pembatasan jarak sosial terbukti tidak dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama, meskipun kemanjuran awal mereka dalam meratakan kurva virus di seluruh dunia awal tahun ini.

Baca Juga: Pemerintah: Waspada Potensi Gelombang Kedua Wabah Covid-19

“Mereka adalah orang-orang yang secara ekonomi dan sosial paling terpengaruh oleh pembatasan dan lockdown, tetapi yang paling sedikit terkena penyakit ini,” kata Peter Collignon, seorang profesor kedokteran klinis di Sekolah Kedokteran Universitas Nasional Australia di Canberra, “Masalahnya adalah kita harus mengubah perilaku mereka yang masih anak-anak berusia 20 hingga dewasa muda 30 tahun. ”

Orang-orang dewasa Amerika muda cenderung suka berpesta sehingga menyebarkan Covid-19 dengan cepat. Dan fakta bahwa orang yang lebih muda kurang berisiko terhadap infeksi Covid-19 yang parah atau kematian telah membuat mereka berani melanggar peraturan.

Ini telah menyebabkan tokoh-tokoh publik seperti Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, meminta kepada populasi yang lebih muda untuk lebih bertanggung jawab dan tidak menjadi “bagian dari penyebaran pandemi.”

Pemerintah masih menghadapi kebangkitan pandemi yang agresif dan vaksin efektif masih beberapa bulan lagi perkembangannya, tidak ada banyak pilihan selain permintaan untuk tinggal di rumah.

Dari fenomena ini muncul pertanyaan kritis “Bagaimana bisa menjaga perilaku kaum dewasa muda ketika konsekuensi bagi mereka secara medis masih jauh di bawah dibandingkan dengan orang berusia 70 atau 80 tahun, dan konsekuensi ekonomi serta finansial jauh lebih tinggi daripada kesehatan bagi mereka?” Collignon berkata, “Itu adalah dilema yang saya rasa masih banyak yang tidak tahu jawabannya.”katanya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply