Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sunday, September 20, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Meski Digabung Jadi Satu, Value GM Dan Ford Belum Mampu Lampaui Tesla

Bos Tesla, Elon Musk. (dok. The Verge)

Topcareer.id – Tesla kini telah menjadi produsen mobil paling berharga di dunia, menyalip Toyota asal Jepang, setelah sahamnya mencapai rekor tertinggi.

Saham pembuat mobil listrik ini sempat menyentuh angka USD 1.134 pada awal Juli, sebelum jatuh kembali. Itu kira-kira USD 4 miliar lebih tinggi dari nilai pasar saham Toyota saat ini.

Saham Tesla telah melonjak sejak awal 2020, karena investor mulai merasa lebih percaya diri tentang masa depan kendaraan listrik.

Setelah bertahun-tahun mengalami kerugian, perusahaan mobil asal California itu juga telah menghasilkan tiga kuartal yang menguntungkan secara berturut-turut dan mempertahankan momentum itu selama tiga bulan pertama tahun 2020, meskipun terjadi wabah virus corona.

Baca juga: Tesla Akhiri Masa-masa Pengurangan Gaji Pekerjanya

Namun, Toyota tetap menjadi bisnis yang jauh lebih besar dalam hal penjualan.

Perusahaan Jepang itu menjual 10,46 juta kendaraan pada kwartal awal tahun 2020 hingga Maret, dan membukukan pendapatan 30,2 triliun yen (USD 281,20 miliar).

Tesla pada 2019 hanya membukukan penjualan USD 24,6 miliar, setelah mengirim 367.200 kendaraan ke pembeli tahun lalu.

Namun, investor sangat antusias dengan potensi perusahaan AS ini, dan percaya itu bisa mendominasi pasar mobil listrik di masa depan.

Analis di pialang saham Jefferies mengatakan perusahaan tetap “jauh di depan rekan-rekan dalam berbagai produk, kapasitas dan teknologi”.

Baca juga: Tesla Lampaui Toyota Jadi Pembuat Mobil Paling Berharga Di Dunia

Perusahaan Tesla sekarang bernilai sekitar tiga kali nilai gabungan, dari pesaingnya di AS, yakni General Motors dan Ford.

Elon Musk mengatakan Tesla akan menjual setidaknya 500.000 kendaraan pada tahun 2020, perkiraan perusahaan tidak berubah meskipun pandemi virus corona.(Feb)

the authorSherley Agnesia

Leave a Reply