Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, October 1, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Studi: Steroid dan Obat Hepatitis C Bisa Dipakai Lawan Covid-9 dan Tekan Risiko Kematian

Topcareer.id – Pandemi virus corona yang melanda dunia terus berlanjut, penelitian pun tak henti dilakukan oleh para ilmuwan.

Beberapa studi ilmiah terbaru tentang novel virus corona baru terus dilaporkan sebagai upaya mendalam menemukan pengobatan dan vaksin untuk COVID-19.

Pasien COVID-19 yang sakit kritis dengan obat kortikosteroid diprediksi bisa mengurangi risiko kematiannya hingga 20% terlepas dari steroid mana yang digunakan, menurut analysis of seven international trials yang diterbitkan pada awal September 2020 di Journal of American Medical Association.

Baca Juga: Bisa Jadi Obat Corona, Ridwan Kamil Minta Perguruan Tinggi Riset Tanaman Kina

Analisis ini mengumpulkan data dari uji coba terpisah terhadap hidrokortison dosis rendah, deksametason dan metilprednisolon, menemukan bahwa mereka meningkatkan kelangsungan hidup pasien COVID-19 di unit perawatan intensif.

“Ini setara dengan sekitar 68% dari pasien (ini) yang bertahan hidup setelah pengobatan dengan kortikosteroid, dibandingkan dengan sekitar 60% yang bertahan tanpa kortikosteroid,” kata para peneliti dalam sebuah pernyataan.

Penemuan ini mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperbarui saran pengobatannya dengan memasukkan rekomendasi kuat untuk penggunaan steroid pada pasien dengan COVID-19 parah.

Bukti menunjukkan bahwa jika memberikan kortikosteroid, ada 87 kematian lebih sedikit per 1.000 pasien, kata perwakilan WHO Janet Diaz. “Hasil ini sangat mengesankan, ini bukan obatnya,” kata Anthony Gordon dari Imperial College London, yang juga mengerjakan analisis tersebut. “Tapi, penting bagi kami untuk menjaga semua strategi pencegahan.”

Obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati hepatitis C mungkin juga efektif melawan virus corona, sebuah laporan baru menunjukkan. Para peneliti memeriksa lebih dari 6.000 obat dengan riwayat penggunaan yang aman pada manusia untuk melihat apakah ada di antara obat tersebut yang dapat memblokir protein penting dalam siklus hidup virus yang disebut protease utama.

“Yang paling manjur adalah obat yang disetujui untuk mengobati hepatitis C,” pemimpin studi Brian Kraemer dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington mengatakan kepada Reuters.

Dia memilih Boceprevir dan Narlaprevir, penghambat protease yang dikembangkan oleh Merck & Co yang telah digantikan oleh pengobatan hepatitis C yang lebih efektif. Jika efek obat-obatan ini terhadap virus corona baru dikonfirmasi bagus dalam uji klinis, kemungkinan besar akan diberikan sebagai bagian dari terapi kombinasi untuk menggunakan lebih dari satu jalur serangan terhadap virus.

Keuntungan menemukan pengobatan yang manjur di antara obat-obatan yang disetujui adalah bahwa mereka “dapat dengan cepat dikembangkan ke uji klinis tanpa upaya pengembangan praklinis multi-tahun yang ekstensif,” kata para peneliti dalam laporan mereka, yang diposting di bioRxiv sebelum dilakukan tinjauan sejawat.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply