Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, October 23, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Remdesivir Terbukti Ampuh Pulihkan Pasien COVID-19 dalam 5 Hari

Obat Remdesivir

Topcareer.id – Data akhir obat antivirus remdesivir dari Gilead Science menunjukkan pengobatannya mampu memangkas waktu pemulihan COVID-19 sebanyak lima hari dibandingkan dengan pasien yang mendapat plasebo, satu hari lebih cepat dari yang ditunjukkan dalam data awal, perusahaan dan peneliti mengatakan informasi terupdate ini pada hari Kamis (8/10).

Pada pasien yang menggunakan alat bantu oksigen saat pertama kali mendapat obat remdesivir yang dijual dengan merek Veklury, terbukti mengurangi waktu pemulihan hanya tujuh hari dibandingkan dengan plasebo setelah 29 hari, menurut penelitian yang dilakukan pada 1.062 pasien dan diterbitkan dalam New England Journal of Medicine .

Studi terakhir melihat data pada 29 hari pengobatan, versus studi pendahuluan yang dirilis pada Mei 2020 yang melaporkan hasil setelah 15 hari.

Baca Juga: Sempat Meremehkan, Donald Trump dan Istrinya Melania Positif Virus Corona

Obat Gilead termasuk yang pertama digunakan sebagai pengobatan untuk virus corona baru, dan merupakan salah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati Presiden AS Donald Trump.

Remdesivir menerima izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS pada 1 Mei 2020, dan sejak itu telah diizinkan untuk digunakan di beberapa negara lain.

Hasil dari keseluruhan penelitian menunjukkan bahwa obat tersebut dapat mengurangi risiko kematian, tetapi manfaatnya tidak signifikan secara statistik.

Dalam analisis terpisah yang hanya mengamati pasien yang menerima bantuan oksigen, obat tersebut tampaknya mengurangi risiko kematian sebesar 72 persen pada hari ke 15, dan 70 persen pada hari ke 29.

Dengan analisis ini, “Kami sekarang memiliki data yang menunjukkan bahwa memberikan remdesivir kepada pasien dengan bantuan oksigen dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan kematian mereka dibandingkan dengan subkelompok lain,” Dr. Andre Kalil, ahli penyakit menular di University of Nebraska Medical Center dan peneliti utama studi tersebut mengatakan dalam siaran pers,**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply