Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, November 26, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Tidak Benar Pakai Masker Bikin Hypoxia, Ini Penjelasannya

Topcareer.id – Banyak beredar klaim negatif mengenai masker yang harus dikenakan selama masa pandemi COVID-19 untuk membantu menekan penyebaran virus corona.

Masker bagi sebagian besar orang dianggap secara drastis mengurangi asupan oksigen, dan menyebabkan keracunan karbondioksida.

Padahal penggunaan masker wajah didorong oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan anggota satuan tugas virus corona dari setiap negara untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari virus corona, terutama di tempat-tempat yang sulit untuk menjaga jarak fisik.

Mengenakan masker wajah telah menjadi kontroversial, bahkan dalam beberapa kasus mengakibatkan kesalahan informasi tentang keefektifannya.

Baca Juga: Face Shield Tak Optimal Tangkal Covid-19 Bila Dipakai Tanpa Masker

Salah satu postingan di Facebook mengklaim bahwa mengenakan masker dalam waktu lama dapat secara drastis mengurangi kadar oksigen pemakainya dan menyebabkan keracunan karbondioksida. Namun orang yang memposting hal itu mengatakan dia tidak tahu darimana asal infografis yang dia bagikan dan tidak memeriksa apakah informasinya benar.

Meme viral lainnya juga ada yang menampilkan tiga orang memakai masker saat berjalan di pantai dan captionnya mengatakan memakai masker bisa mengurangi oksigen hingga 60% dan meningkatkan risiko keracunan CO2.

Menurut FDA, ada dua jenis masker utama, yakni: respirator N95 dan masker bedah. Keduanya telah diuji ketahanan fluida dan efisiensi filtrasinya.

Masker N95 dipasang lebih rapat, membuatnya lebih mungkin untuk menghambat pernapasan pemakainya jika dipakai dalam jangka waktu yang lama.

Masker bedah, yang dapat dibuang, dan jenis masker kain lainnya memiliki ukuran yang lebih longgar, sehingga sangat tidak mungkin pemakainya akan melihat penurunan yang signifikan dalam asupan oksigen mereka.

Masker non-N95 juga berpori, memungkinkan udara mengalir masuk dan keluar serta memungkinkan fungsi pernafasan normal, sambil membatasi pelepasan tetesan pernafasan.

Merupakan hal yang umum bagi ahli bedah dan ilmuwan lain atau petugas kesehatan untuk memakai masker, terutama respirator N95, untuk jangka waktu yang lama.

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply