Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sunday, December 6, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Skema Vaksin COVID-19 dari WHO Tak Akan Gunakan Remdesivir

Topcareer.id – Skema obat COVID-19 yang dipimpin WHO lebih memilih untuk menggandakan antibodi serta steroid, dan menghindari remdesivir

Skema yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia tersebut dijalankan untuk memasok vaksin anti virus corona ke negara-negara miskin yang memprioritaskan perawatan antibodi monoklonal eksperimental dan steroid dan menghindari terapi blockbuster remdesivir Gilead, sebuah dokumen internal menunjukkan.

Draf dokumen WHO itu dilihat oleh Reuters tertanggal 30 Oktober 2020, isinya mengatakan bahwa prioritasnya adalah untuk mengamankan antibodi monoklonal di pasar yang ketat dan untuk meningkatkan pembelian dan distribusi steroid deksametason murah, yang telah dipesan hampir 3 juta program pengobatan untuk negara miskin.

WHO sama sekali tidak mengutip remdesivir di antara obat prioritas.

Gilead Science, perusahaan AS yang mengembangkan remdesivir, mengatakan skema WHO belum mendanai uji coba COVID-19 dan tidak pernah mendekati perusahaan tersebut untuk kemungkinan memasukkan obat itu dalam portofolionya.

Baca Juga: Remdesivir Terbukti Ampuh Pulihkan Pasien COVID-19 dalam 5 Hari

Skema pasokan obat adalah salah satu dari empat pilar yang disebut ACT Accelerator, sebuah proyek yang dipimpin WHO yang juga berupaya untuk mengamankan vaksin COVID-19, alat diagnostik dan pelindung untuk negara-negara miskin dengan mengumpulkan lebih dari US $ 38 miliar pada awal 2022.

Skema pasokan obat yang dipimpin bersama oleh Wellcome Trust, sebuah badan amal, dan Unitaid, sebuah kemitraan kesehatan yang diselenggarakan oleh WHO, sangat membutuhkan dana sebesar US $ 6,1 miliar, US $ 750 juta di antaranya pada Februari 2021, dari total permintaan US $ 7,2 milyar.

Belum ada obat berbasis antibodi monoklonal yang disetujui untuk melawan COVID-19, tetapi skema WHO telah berinvestasi dalam penelitian tentang teknologi baru dan telah mengamankan kapasitas produksi di pabrik Fujifilm Diosynth Biotechnologies di Denmark.

Skema ini ingin menghabiskan US $ 320 juta untuk memproduksi antibodi di fasilitas itu. Seorang juru bicara Unitaid, berbicara atas nama co-leader skema WHO tersebut, menegaskan bahwa mereka ingin mengumpulkan dan menginvestasikan US $ 320 juta untuk mengamankan antibodi monoklonal tetapi menolak berkomentar tentang kesepakatan komersial potensial dengan mengutip perjanjian rahasia.

US $ 110 juta lainnya akan digunakan untuk persetujuan peraturan dan prosedur persiapan pasar lainnya untuk antibodi monoklonal di negara-negara miskin, dokumen tersebut menunjukkan, sementara US $ 220 juta akan mendanai uji klinis proyek antibodi monoklonal dan COVID-19 di negara-negara miskin.

Di antara perusahaan yang mengembangkan antibodi monoklonal terhadap COVID-19 ada raksasa farmasi AS Eli Lilly, Novartis Swiss, dan perusahaan AS Regeneron, yang antibodinya diberikan bersama dengan remdesivir kepada Presiden AS Donald Trump pada Oktober lalu ketika dinyatakan positif terkena virus corona.

Eli Lilly telah setuju untuk memproduksi antibodi di pabrik Fujifilm mulai April dan membuatnya tersedia dengan “harga yang terjangkau” untuk negara-negara miskin, kata seorang juru bicara perusahaan.

Tidak jelas bagaimana dan apakah skema WHO akan mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk pasokan antibodi dan proyek lainnya. Regeneron pun belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Novartis, yang mengharapkan hasil segera dari uji coba pengobatan radang sendi canakinumab terhadap COVID-19, mengatakan bahwa pihaknya menerima permintaan dari skema WHO yang mencari informasi tentang obat-obatan untuk mengatasi virus corona. Novartis juga membuat deksametason.

Remdesivir telah diizinkan di banyak negara di seluruh dunia untuk mengobati COVID-19. Namun, temuan awal dari uji coba besar yang disponsori WHO mengungkapkan pada bulan Oktober lalu bahwa antivirus tersebut memiliki sedikit atau tidak ada manfaat bagi pasien COVID-19, bertentangan dengan uji coba positif sebelumnya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply