Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, December 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Tren

Akibat Covid, Menkeu Sebut Partisipasi Pekerja Perempuan Semakin Menurun

Dok/Kemenkeu

Topcareer.id- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki dalam partisipasi angkatan kerja semakin meningkat akibat pandemi Covid-19.

Hal itu disampaikan Menkeu dalam acara The UN Women Asia Pacific Women Empowerment Principles (WEPs) Awards Ceremony in Indonesia yang diselenggarakan secara daring, pada Rabu (18/11/2020).

Menurutnya, sektor terfeminisasi, seperti restoran, akomodasi atau hotel, dan juga pekerja rumahan merupakan sektor yang paling tertekan selama pandemi ini.

Ditambah lagi berdasarkan laporan ADB-UN Women’s High Level Roundtable tahun 2020, 54% dari 75 juta pekerja di restoran dan industri akomodasi itu sendiri adalah kaum hawa.

“Dengan kondisi seperti ini, akibatnya ketimpangan gender semakin meningkat dan terjadi penurunan partisipasi angkatan kerja perempuan. Pada tahun 2020, di Indonesia ini tingkat partisipasi kerja perempuan turun dari 55,53% jadi 54,56%,” ujar Menkeu.

Baca juga: Wow, Kementerian atau Lembaga Diwajibkan Belanja Produk UMKM Minimal 40%

Permasalahan inilah yang menurutnya menimbulkan pendapatan secara global dari 740 juta pekerja perempuan di sektor formal ini bahkan berkurang hingga 60% dalam bulan pertama saat virus corona ini mulai menyebar.

Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2020 lalu menunjukkan bahwa partisipasi gender dan ketimpangan upah di Indonesia mencapai 23%. Padahal, data ketimpangan upah di tingkat global hanya sebesar 16%.

“Angka ini menunjukkan perempuan mendapatkan upah yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki,” tegasnya.

Menkeu pun berharap agar semua pihak bisa bekerjasama mengatasi permasalahan ini. Karena kesetaraan dan inklusi merupakan aspek yang penting baik secara moral maupun bagi perekonomian.

“Ketika tidak mau menyelesaikan masalah ketimpangan gender, dunia akan kehilangan US$ 23 triliun atau lebih dari 12 kali perekonomian Indonesia. Sementara, potensi kehilangan di Asia-Pasifik sebesar US$ 4,5 triliun,” jelas Sri Mulyani.**(Feb)

the authorSherley Agnesia

Leave a Reply