Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juni 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Moderna Klaim Vaksinnya 100% Efektif Cegah Kasus COVID-19 yang Parah

Ilustrasi. Dok/Pixabay

Topcareer.id – Perusahaan farmasi Moderna pada Senin (30/11/2020) mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat untuk otorisasi vaksin Covid-19. Perusahaan meminta FDA untuk meninjau kumpulan data yang menunjukkan vaksin 94,1% efektif mencegah Covid-19 dan 100% efektif mencegah kasus penyakit yang parah.

“Ini mengejutkan. Ini adalah data yang luar biasa,” kata Dr. Paul Offit, anggota komite penasihat vaksin FDA, mengutip CNN.

Moderna adalah perusahaan kedua yang mengajukan ke FDA untuk otorisasi penggunaan darurat untuk vaksin virus corona, sebelumnya ada Pfizer yang mengajukan pada 20 November. Moderna mengatakan pihaknya juga berencana untuk mengajukan izin dari European Medicines Agency.

Data baru Moderna

Pada Senin, Moderna merilis data kemanjuran terbaru untuk uji klinis Fase 3. Mulai Juli, Moderna memberikan vaksin atau plasebo kepada sekitar 30.000 orang di Amerika Serikat. Dengan tingkat virus corona yang tinggi di seluruh negeri selama beberapa bulan berikutnya, banyak dari subjek penelitian tersebut mengembangkan Covid-19.

Tetapi ada perbedaan besar antara kelompok yang mendapat vaksin dan kelompok yang mendapat plasebo. Di antara sekitar 15.000 orang yang menerima vaksin, 11 mengembangkan Covid-19.

Di antara sekitar 15.000 orang yang menerima plasebo, 185 mengembangkan Covid-19. Itu berarti 94,1% kemanjuran untuk vaksin Moderna.

Tak satu pun dari 11 orang yang menerima vaksin menjadi sakit parah, tetapi 30 dari 185 yang menerima plasebo menjadi sakit parah, dan satu dari mereka meninggal.

“Vaksin tersebut memiliki tingkat kemanjuran yang serupa untuk orang tua dan orang-orang dalam kelompok minoritas ras,” kata Kepala Medis Moderna, Dr. Tal Zaks.

Dalam uji klinis Fase 3 Pfizer, vaksin terbukti 95% efektif, dan satu peserta studi yang menerima vaksin mengembangkan kasus Covid-19 yang parah.

Meskipun kedua vaksin tersebut tidak identik, Pfizer dan Moderna menggunakan messenger RNA untuk memperoleh respons imun dalam tubuh manusia. Vaksin diberikan dalam dua dosis dengan selang waktu beberapa minggu, dan dapat menyebabkan efek samping, seperti demam atau nyeri tubuh selama beberapa hari.**(Feb)

Tinggalkan Balasan