Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Monday, January 25, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Kisah Perjuangan Hidup Mati dokter bedah sembuh dari COVID-19 (Bagian 2)

dr Sriyanto Sp B

Sebuah testimoni dari dr Sriyanto Sp B

Topcareer.id – Saya seorang dokter bedah di sebuah Rumah Sakit di Wonogiri yang baru saja menyelesaikan masa isolasi. Berdua bersama anak bujang semata wayang, saya harus merasakan 12 hari “nikmatnya” ruang isolasi mulai tanggal 18-30 Nov 2020.

Alhamdulillah, saat ini kami berdua sudah sembuh dan dapat bernapas dengan lega. Bahkan saat ini kami sudah dapat beraktivitas seperti sedia kala.

Saya ingin berbagi cerita beratnya perjuangan antara hidup dan mati pada masa isolasi. Sebuah pengalaman yang tak akan mungkin saya lupakan seumur hidup.

Bagian akhir dari tulisan.

Di hari kedelapan, saya mendapat injeksi plasma yang kedua kalinya. Setelah itu saya tertidur selama 12 jam. Seluruh badan terpasang alat ekg, oksigen 5 liter, dan infus 2 jalur. Seharian itu saya hanya tertidur. Begitu terbangun, badan terasa lebih ringan dan segar. Batuk juga sudah berkurang banyak dan demam perlahan menurun.

Memasuki hari kesembilan, demam sudah menghilang. Suhu tubuh normal meskipun tidak minum obat penurun panas. Batuk berkurang hingga 75%. Badan lebih ringan, hati juga bahagia. Terlewati sudah masa-masa kritis. Terlewati sudah pertarungan antara hidup dan mati. Di hari ini saya sudah bisa merasakan empuknya nasi, tidak keras lagi seperti kemarin.

Alhamdulillah saya bersyukur sekali bisa mendapatkan tosilizumab dan plasma. Dari pengalaman masa isolasi kemarin, terbukti acterma dan plasma sangat cocok mengobati pasien COVID-19, bahkan yang memiliki komorbid diabates.

Saat ini kondisi saya sudah membaik dan sedang masa pemulihan. Begitu pula dengan anak semata wayang. Kami sudah pulang ke Wonogiri dan bahkan sudah bisa bersepeda di sekitar rumah.

Namun, sedihnya kondisi ayah mertua tak dapat tertolong. Beliau tak bisa bertahan dan menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 21 November 2020. Beliau dimakamkan secara protokoler COVID-19.

Saat mendengar kabar duka itu, saya sedang berada di ruang isolasi. Semua kesedihan sepertinya menimpa saya, mulai tak bisa menelan makanan, demam tinggi, batuk parah, anak diisolasi dan mertua meninggal. Rasanya segala kepedihan muncul bersamaan.

Tetapi saya berusaha tegar dan tidak mau menyerah. Tak mau larut, saya bangkit dan akhirnya sembuh dari penyakit ini. Tekad itu saya tanamkan kuat dalam hati karena saya masih ingin hidup untuk menambah amal shalih. Bekal saya belum cukup untuk pulang ke negeri keabadian.

Baca juga: Waduh, Terkurung karena COVID-19 Bisa Pengaruhi Kesehatan

Dengan iringan doa dari seluruh kerabat dan sahabat, saya berusaha bangkit. Dukungan dari teman-teman di grup WhatsApp tiada henti mendoakan. Sungguh doa mereka sangat berarti serasa guyuran air di gurun Sahara. Ada yang mendoakan melalui telepon, Facebook, dan juga yang mendoakan dalam diam.

Betapa sebuah doa di saat kondisi kritis membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi melihat kiriman video santri-santri TPQ dari berbagai daerah yang mengirimkan doa hingga beberapa hari. Mulut-mulut kecil itu meminta saya untuk tetap semangat agar bisa bertemu mereka kembali untuk mengobati orang lagi. Tak terasa air mata menetes.

Sebuah pelajaran berharga bagi saya dan juga semua orang di masa pandemi ini. Bahwa ketika kondisi kritis, tetap percayakan pengobatan kepada medis. Bahwa obat medis sudah teruji. Sedangkan pengobatan alternatif baru sebatas coba-coba. Kita harus tetap rasional.

Doa juga menjadi penyembuh. Doa-doa yang tulus serta perhatian dari orang sekeliling sangat membantu percepatan pengobatan. Jangan pernah lelah memberikan perhatian dan doa untuk mereka yang sedang sakit. Sungguh pelukan doa dari orang-orang terkasih begitu berharga.

Jaga kesehatan dan terapkan protokol di mana pun berada. Selalu gunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak aman dengan orang lain. Stay safe**(Feb)

the authorFeby Ferdian

Leave a Reply