Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Juni 23, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Ini Alasan Jepang Kembali Putuskan Lockdown Satu Bulan

Warga Jepang memakai masker. (dok. Somag News)

Topcareer.id – Lonjakan kasus virus corona di Jepang, termasuk rekor 1.591 kasus di Tokyo dalam sehari telah mendorong pemerintah Jepang kembali ke mode darurat.

Deklarasi untuk ibu kota Jepang dan daerah sekitarnya diberlakukan mulai pada Kamis malam (7/1) dan berlangsung hingga 7 Februari 2021.

Ini akan menandai “soft lockdown” kedua Jepang, setelah keadaan darurat pertama diumumkan pada April 2020 lalu. Dan itu juga berlangsung sekitar satu bulan.

Perdana Menteri Yoshihide Suga menyerukan pembatasan “terbatas dan terkonsentrasi” kali ini. Fokusnya ada pada restoran dan bar, dengan sekolah tetap buka.

Tetapi pembatasan baru ini datang tepat ketika vaksin virus corona sudah mulai banyak digunakan di negara-negara lain. Hal ini membuat banyak orang bertanya mengapa Jepang berada di belakang dalam memulai inokulasi.

Wilayah lockdown
Keadaan darurat akan terbatas pada wilayah metropolitan Tokyo, termasuk ibu kota negara dan prefektur tetangga Kanagawa, Saitama dan Chiba. Jam malam berlaku di restoran dan bar yang menyajikan alkohol mulai Jumat (8/1). Para ahli yang menasihati pemerintah menyalahkan sebagian besar penyebab penyebaran virus ada di restoran dan bar.

Kenapa harus lockdown?
Kasus COVID-19 harian di Jepang terus meningkat selama musim liburan Tahun Baru, mencapai angka 6.000 untuk pertama kalinya dalam sehari di seluruh Jepang pada hari Rabu (6/1).

Kuil telah menarik banyak orang untuk berdoa menyambut tahun 2021. Orang juga berbondong-bondong ke perlombaan estafet jarak jauh Ekiden, sebuah tradisi Tahun Baru.

“Pergerakan masyarakat selama Desember tidak turun dan jumlah kasus tetap tinggi di hari-hari pertama Januari,” jelas Suga.

Situasi rumah sakit
Meskipun rumah sakit sama sekali tidak penuh, namun hanya sebagian tempat tidur yang dikhususkan untuk pasien COVID-19, dan ini semakin sulit ditemukan. Hingga Selasa (5/1), tercatat 3.083 pasien belum mendapatkan slot di RS atau fasilitas lainnya.

Layanan medis berada di bawah tekanan dan berada dalam situasi kritis. “Ada kekurangan tenaga kerja di rumah sakit,” kata Jiro Yasuda, profesor penyakit menular di Universitas Nagasaki. “Sekalipun kami menambah jumlah tempat tidur, apa yang bisa dilakukan jika kekurangan staf,” jelasnya.

Mengapa perlu waktu lama untuk memulai vaksinasi?
Vaksinasi virus corona telah mulai dilakukan di banyak negara, termasuk AS, Inggris, China dan lainnya. Tetapi meskipun lonjakan infeksi baru-baru ini, jumlah kasus Jepang masih jauh di bawah AS atau negara-negara Eropa tertentu.

Dengan demikian, para ahli di Jepang berpendapat negara tidak boleh terburu-buru dalam proses persetujuan vaksin. Regulator juga ingin mengetahui efek samping apa pun sebelum memberi lampu hijau.

Inilah mengapa Suga menyarankan penyuntikan vaksin baru bisa dimulai pada akhir Februari 2021. Namun, Jepang hanya memiliki jendela waktu yang sempit menjelang Olimpiade Tokyo yang direncanakan pada bulan Juli.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan