Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, March 3, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Pandemi Ancam Peningkatan Jumlah Pekerja di Bawah Umur

Dok/New York Times

Topcareer.id – Keberadaan para pekerja di bawah umur ditakutkan akan membesar dan memburuk akibat pandemi Covid-19.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperingatkan hal tersebut akan membalikkan kemajuan dalam perang melawan momok ini, seiring dengan meningkatnya kemiskinan.

Penutupan sekolah dan langkah-langkah pembatasan secara langsung memperburuk situasi di mana anak di bawah umur harus bekerja untuk menyumbang pendapatan keluarga.

Hal ini diungkapkan Guy Ryder, Direktur Jenderal ILO, yang merujuk pada 152 juta anak yang bekerja di dunia.

Dia mencatat bahwa sejak awal abad ini, hampir 100 juta anak berhenti bekerja.

Namun, situasi konflik dan kerapuhan seperti yang dialami oleh umat manusia karena pandemi Covid-19 kembali meningkatkan masalah yang mempengaruhi setidaknya satu dari 10 anak di dunia.

Baca juga: Tips Pola Makan Sehat Selama Masa Karantina COVID-19

Saat ini, diperkirakan ada 152 juta anak yang terpaksa bekerja. Meskipun faktanya angka ini telah menurun hingga 38% dalam satu dekade terakhir, menurut data ILO, dikutip dari Plenglish.com.

Hampir setengah dari kasus pekerja anak terletak di Afrika (72 juta), diikuti oleh Asia dan Pasifik (62 juta). 70% dari anak di bawah umur yang bekerja dikabarkan melakukannya di sektor pertanian.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), 108 juta anak laki-laki dan perempuan berusia antara 5 dan 17 tahun diidentifikasi sebagai pekerja pertanian, sebuah sektor yang dianggap salah satu yang paling berbahaya, dalam hal kematian terkait pekerjaan.

Direktur eksekutif Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Henrietta Fore, menunjukkan bahwa situasi pekerja anak saat ini telah diperburuk dengan meningkatnya kemiskinan, serta lemahnya undang-undang perlindungan dan praktik budaya di beberapa negara.

Kamis lalu, 2021 diresmikan sebagai Tahun Internasional untuk Pemberantasan Pekerja Anak, yang disetujui oleh Majelis Umum PBB pada 2019, dalam usulan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang mendesak pemerintah untuk menghapus pekerja anak pada 2025.

“Ini adalah seruan untuk melarang dan menghapus bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, Khususnya, perekrutan dan penggunaan tentara anak, serta ntuk mengakhiri semua bentuk masalah sosial ini,” begitu bunyi usulan tersebut.**(Feb)

the authorSherley Agnesia

Leave a Reply