Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Juni 18, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Studi: Vitamin C Dan Zinc Tak Bisa Mengurangi Gejala COVID-19

Vitamin suplemen. (pexels)

Topcareer.id – Bisakah vitamin C dan zinc mampu membantu kamu melawan Covid-19?

Tidak. Bahkan pada dosis tinggi sekalipun. Hal ini berdasarkan uji klinis acak pertama yang menguji kedua suplemen tersebut di bawah pengawasan medis.

Studi baru yang diterbitkan Jumat (12/2/2021) di JAMA Network Open, menemukan kedua suplemen itu tidak bermanfaat bagi orang yang mengisolasi diri di rumah dengan COVID-19.

“Sayangnya, 2 suplemen ini gagal memenuhi hype mereka,” tulis Dr. Erin Michos dari John Hopkins dan Dr. Miguel Cainzos-Achirica dari Houston Methodist, dalam editorial yang menyertainya.

Menurut ahli jantung Cleveland Clinic Dr. Milind Desai dan timnya, zinc glukonat (seng) dosis tinggi dan asam askorbat (vitamin C), kedua suplemen itu tidak mengurangi gejala SARS-CoV-2,

Penggunaan dosis tinggi apalagi tanpa resep dokter justru bisa menyebabkan beberapa efek samping yang tidak menyenangkan.

Baca juga: Catat, Ini Syarat Vaksin untuk Kelompok Komorbid hingga Penyintas Covid-19

Suplemen populer
Banyak orang di Amerika dan di seluruh dunia beralih ke suplemen vitamin C dan zinc untuk melawan virus flu dan demam.

Vitamin C adalah antioksidan yang diakui dalam mendukung sistem kekebalan tubuh. Meski belum terbukti mencegah penyakit, penelitian lain menemukan vitamin C bisa memperpendek pilek hingga 8% pada orang dewasa dan 14% pada anak-anak.

Namun, menggunakan vitamin C setelah gejala pilek muncul, terlihat tidak membantu, menurut National Institutes of Health.

Zinc dapat membantu kemampuan sel untuk melawan infeksi, sementara ada bukti bahwa kekurangan zinc akan meningkatkan sitokin pro-inflamasi dan menurunkan produksi antibodi.

Jumlah rata-rata vitamin C harian yang direkomendasikan adalah 75 miligram untuk wanita dewasa dan 90 miligram untuk pria.

Mengonsumsi lebih dari 2.000 miligram vitamin C sehari dapat menyebabkan mulas, kram perut, mual, muntah, diare, dan sakit kepala.

Sementara itu, mengonsumsi lebih dari 40 miligram zinc setiap hari dapat menyebabkan mulut kering, mual, kehilangan nafsu makan, dan diare, ditambah lagi dengan rasa logam yang tidak enak.

Pengguna jangka panjang dapat memiliki kadar tembaga rendah, kekebalan lebih rendah, dan kadar kolesterol HDL (kolesterol ‘baik’) yang rendah.

Baca juga: Presiden Bakal Setop Bansos bagi yang Tak Mau Divaksin Covid-19

Penelitian terus berlanjut
Para ilmuwan terus mengeksplorasi penggunaan vitamin C dan suplemen dalam pengobatan COVID-19.

Uji coba acak saat ini sedang dilakukan untuk melihat apakah suplemen vitamin D dapat membantu. Selain mendukung pertumbuhan tulang yang sehat, vitamin D memiliki sifat anti-inflamasi.

Lebih banyak penelitian sedang berlangsung untuk melihat apakah COVID-19 dapat dicegah dengan suplemen seperti vitamin C, D dan zinc.

Namun, berdasarkan penelitian ini, penggunaan vitamin C dan zinc untuk memperpendek durasi terpapar COVID-19 tampaknya tidak berguna.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan