Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, April 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

6 Sindrom Ini Pakai Nama Tokoh Dongeng (Bagian 1)

Peter PanPeter Pan

Topcareer.id – Sindrom adalah penyakit atau kelainan yang melibatkan sekelompok tanda dan gejala tertentu, yang secara konsisten muncul bersamaan.

Kondisi medis yang beraneka ragam dan umum dihadapi para dokter dan perawat di Rumah Sakit setiap harinya ini biasanya diberi nama oleh dokter yang mendiagnosisnya.

Uniknya ada beberapa sindrom yang memiliki nama seperti tokoh-tokoh fantasi negeri dongeng. Berikut ini beberapa nama sindrom medis dan psikologis dari karakter fiksi.

Bagian pertama dari artikel.

Sindrom Rapunzel
Rapunzel merupakan karakter utama putri dongeng Brothers Grimm dengan rambut panjang.

Secara medis disebut trichobezoar, kondisi langka ini ditandai dengan gangguan usus yang disebabkan pasien yang hobi makan rambut.

Ini terjadi sebagian besar pada pasien yang didiagnosis dengan trikotilomania, suatu kondisi psikologis yang dimanifestasikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk mencabut rambut kepala dan tubuh.

Baca Juga: Kasus Covid Global Naik 14%, Ini Negara-Negara yang Alami Lonjakan Terbesar

Sindrom Peter Pan
Sindrom ini dinamai setelah karakter J.M. Barrie yakni Peter Pan menolak untuk tumbuh dewasa.

Dalam psikologi populer, orang dengan sindrom ini menunjukkan ketidakdewasaan di sebagian besar bidang hidupnya.

Mereka menghindari tanggung jawab, menentang norma-norma yang diterima, lebih fokus pada fantasi daripada realitas, dan seringkali perlu diasuh.

Sindrom Mowgli
Sindrom dengan nama dari karakter utama dalam The Jungle Book ini digunakan untuk menggambarkan anak-anak dengan mental dan atau sifat fisik yang lemah.

Terutama mereka yang menderita tekanan emosional yang luar biasa karena pengabaian dan pelecehan dari orang tuanya. Kata ini juga digunakan untuk merujuk pada anak-anak yang tumbuh tanpa pengaruh kontak manusia, seperti tokoh Mowgli yang dibesarkan oleh hewan liar.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan