Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juni 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

Produktivitas Karyawan Turun Saat WFH? Bisa Juga Kesalahan Perusahaan Lho!

Ilustrasi. (dok. The Jakarta Post)

Topcareer.id – Apakah bekerja di rumah (WFH) membuat produktivitas meningkat atau sebaliknya? Ini telah menjadi perdebatan hangat baru-baru ini.

Banyak perusahaan tidak mengukur tingkat produktivitas karyawan mereka secara rutin.

Sejumlah besar perusahaan malah masih secara tradisional berasumsi bahwa mereka akan mendapatkan karyawan yang produktif di bawah pengawasan ketat.

Mitra penelitian Work After Lockdown baru saja mempublikasikan hasil survei dari 1.085 responden yang bekerja dari rumah di Inggris.

Mereka bertanya kepada responden apakah mereka merasa bahwa produktivitas yang mereka laporkan sama, lebih baik atau lebih buruk daripada periode sebelum lockdown.

Dari hasil tersebut, 54% merasa mereka bisa lebih banyak menyelesaikan pekerjaan per jam daripada sebelum WFH akibat lockdown.

Hal ini berarti hampir 90% melaporkan bahwa produktivitas telah stabil atau meningkat. Tetapi mengapa ada orang yang justru kurang produktif?

Produktivitas dan kesehatan mental
Survei juga menanyakan tentang kesehatan mental mereka, dan menilainya menggunakan indeks WHO-5 Organisasi Kesehatan Dunia.

Ada pola yang jelas, produktivitas lebih tinggi terkait dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Skor kesehatan mental untuk pekerja paling produktif dalam survei dua kali lebih tinggi dari yang paling tidak produktif.

Namun, masih tidak jelas dari data apakah kesehatan mental yang buruk menyebabkan atau berkontribusi pada penurunan produktivitas.

Untuk mengeksplorasi hubungan ini, mereka mencoba melihat kemampuan orang untuk beradaptasi dengan keadaan yang berubah.

Lebih dari 90% responden melaporkan bahwa mereka dapat berkonsentrasi pada satu aktivitas untuk waktu yang lama.

94% mengatakan mereka dapat menggunakan otonomi yang diberikan oleh perusahaan mereka untuk mengatur ulang tugas-tugas kerja.

85% mengatakan bisa mengendalikan pikiran dan 83% mengatakan bahwa mereka tidak mengalami masalah untuk melanjutkan gaya kerja terkonsentrasi setelah gangguan.

Masing-masing dimensi pengaturan diri ini sangat berkorelasi positif dengan produktivitas tinggi per jam kerja.

Perlu diingat, bahwa banyak orang yang bekerja dari rumah selama lockdown telah hidup dengan tantangan kesehatan mental seperti isolasi, kekhawatiran finansial, home-schooling, atau masalah kesehatan lainnya.

Jelas jika perusahaan ingin memastikan bahwa karyawan produktif bekerja dari rumah, mereka harus mendukung kesejahteraan karyawannya.

Baca juga: 7 Alasan WFH Bisa Tingkatkan Produktivitas

Bekerja di masa depan
Pemutusan hubungan sosial dari bekerja di kantor dalam waktu lama dapat mengikis kesejahteraan mental dan produktivitas di masa depan.

73% dari responden survei melaporkan bahwa mereka secara ideal menginginkan pola kerja yang memungkinkan mereka untuk memvariasikan tempat kerja.

Hal ini telah menjadi mode bagi perusahaan untuk membicarakan tentang cara kerja “hybrid.”

Namun ini bisa menjadi konsep yang tidak tepat jika perusahaan melakukan kesalahan tentang konsep WFH dan membahayakan kesehatan mental karyawan.

Misalnya, jika perusahaan yang memberikan tugas WFH berkepanjangan justru malah meningkatkan isolasi atau menambah beban kerja karyawannya, ini berarti perusahaan gagal memberikan keuntungan produktivitas jangka panjang yang mereka harapkan dari karyawannya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan