Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juli 2, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Populasi Kucing Liar Bikin Negara Siprus Kewalahan

Ilustrasi. (dok. iStock)

Topcareer.id – Setiap hari saat fajar, ketika truk kecil milik Dinos Ayiomamitis perlahan-lahan melewati jalan kuburan, satu persatu kucing muncul di antara batu nisan dan sekitarnya.

“Ini untukmu, Bourekka mou,” ujarnya menggunakan istilah sayang dalam bahasa Siprus, saat kucing-kucing melingkari kakinya dan menunggunya mengambil makanan.

Ayiomamitis adalah salah satu dari banyak sukarelawan di Siprus yang berjuang untuk memberi makan ribuan kucing liar di pulau Mediterania.

“Belum ada penghitungan resmi, tetapi berdasarkan penilaian kami sendiri, setidaknya kucing di sini sama dengan jumlah orang,” kata Ayiomamitis.

Ia memberi makan hingga 200 kucing setiap harinya di berbagai lokasi di sekitar ibu kota Siprus, Nicosia.

“Kami melihat populasi kucing liar mendekati satu juta, itu perkiraan kasar,” kata Ayiomamitis sang ketua komunitas Cat PAWS.

Pada tahun 2004, arkeolog Prancis melaporkan saat itu sebagai catatan sejarah paling awal domestikasi kucing pada situs pemakaman berusia 9.500 tahun di Siprus.

Pada tahun 400 M, Helen dari Konstantinopel dikatakan telah mengirim banyak kucing ke Siprus untuk berburu ular berbisa.

Di cagar alam kucing yang berjarak 80 km dari ibu kota, para sukarelawan menemukan kucing terlantar dan anak kucing dibuang di luar pagar hampir setiap hari.

Malcolm’s Cats, sebuah cagar alam yang dinamai menurut pendirinya Malcolm C.P. Stevenson, menampung sekitar 200 kucing.

Di sini mereka disimpan di lingkungan yang aman dan bersih dengan akses mudah untuk makanan dan dokter hewan.

Baca juga: Siprus Siap Tanggung Jawab Jika ada Turis yang Kena Covid-19

Sekitar 100 kucing dipulangkan setiap tahun, tetapi jumlah kedatangan dengan mudah melebihi kepergian.

“Banyak kucing yang tidak disterilkan, berarti pasti banyak anak kucing setiap tahun. Orang-orang terus-menerus menelepon kami mengabarkan membuang kucing di luar,” kata David Fender, manajer operasi dan ketua Malcolm Cat Protection Society.

Dalam beberapa tahun terakhir negara Siprus telah menyisihkan 75.000 euro per tahun untuk sterilisasi kucing.

Program tahun ini dimulai pada 1 Juni dengan populasi kucing yang membengkak.

“Jumlahnya perlu dikendalikan, dan harus dikendalikan secara manusiawi, terorganisir yang dipimpin oleh pemerintah,” kata Fender.

Suaka berada di tepi semenanjung yang luas di ujung selatan Siprus yang memiliki hubungan kuat dengan hewan.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan