Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, September 21, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

6 Etika Profesional Kerja yang Malah Berdampak Buruk (Bagian 1)

Ilustrasi. (dok. NYC Offices Suites)

Topcareer.id – Pada 2021 ini dan setelah lebih dari setahun pandemi, ada banyak perubahan di ruang kerja atau lingkungan kerja. Ada beberapa etika profesional kerja yang tadinya masih dilakukan sekarang bukan lagi dianggap norma.

“Selain lanskap bisnis yang berubah, kami juga melihat evolusi ruang kerja secara simultan. Etiket yang dulunya dianggap norma, seperti tidak pernah makan di meja, sekarang itu menggelikan,” kata Alex Magnin, pakar teknologi konsumen dan monetisasi digital, dikutip dari Ladders.

Dari tidak pernah mendiskusikan gaji dengan rekan kerja hingga bersikap sangat rendah hati tentang pujian, berikut etika profesional yang kontraproduktif dan terkesan usang.

1. Hanya berbicara tentang inklusivitas dan transparansi

“Tempat kerja tahun 2021 jauh berbeda dari tahun 90-an atau bahkan awal 2000-an. Mereka tidak terlalu kaku, lebih fokus pada bisnis yang ada, daripada penampilan saat bekerja. Intinya untuk semua perilaku profesional saat ini adalah inklusivitas dan transparansi,” kata Magnin.

Dan prinsip-prinsip seperti inklusivitas dan transparansi paling baik diungkapkan dengan cara yang dapat ditindaklanjuti — adalah satu hal untuk mengatakan bahwa kamu menghargai hal-hal itu dan hal lain untuk menunjukkannya melalui perilaku sehari-hari yang membentuk struktur budaya organisasi.

2. Tidak membahas gaji di tempat kerja

Mengungkapkan berapa banyak yang kamu hasilkan dalam kondisi yang tepat mungkin tidak tabu. Bahkan, itu bisa memerangi masalah sistemik seperti disparitas gaji.

Baca juga: Mau Izin Sakit Saat WFH? Pertimbangkan Beberapa Hal Ini

“Pada tahun 2021, kamu dapat mendiskusikan gaji di tempat kerja. Untuk waktu yang lama, dianggap tabu untuk membagikan detail gaji dengan rekan kerja. Namun, nasihat profesional yang ketinggalan zaman ini berbahaya karena membantu menutupi diskriminasi gaji, dan praktik remunerasi yang tidak adil lainnya,” kata Sai Blackbyrn, CEO CoachFoundation.

3. Sangat menghormati otoritas

Meskipun kamu tidak ingin dengan sengaja tak menghormati orang lain, gagasan untuk menghormati otoritas dengan cara apa pun agak kuno, terutama jika kamu ingin menjadi kontributor yang terlibat dan berdampak.

“Kebanyakan anggota tim berusaha mencari harmoni dan menghormati otoritas. Sebaliknya, karyawan yang naik ke kepemimpinan sering secara terbuka menantang status quo dan dengan sopan tidak setuju dengan para pemimpin senior,” kata pakar pelatihan perusahaan Jay Guilford, yang memimpin desain program pelatihan perusahaan Cirque du Soleil, SPARK.

Ia menambahkan, menahan pendapat ahlimu agar menyenangkan otoritas hanya akan membatasi pertumbuhan profesionalmu, terbiasa mencari kesepakatan daripada hasil terbaik, serta membatasi pertumbuhan anggota tim dan kesuksesan bisnis & organisasi secara keseluruhan.**(Feb)

Tinggalkan Balasan