Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Januari 22, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

WHO Rekomendasikan 2 Obat COVID-19 ini untuk Kurangi Risiko Kematian

Topcareer.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (6/7) merekomendasikan penggunaan obat radang sendi Actemra dari Roche dan Kevzara dari Sanofi dengan kortikosteroid untuk pasien COVID-19.

Keputusan ini datang setelah melihat data dari sekitar 11.000 pasien, dimana mereka yang mengonsumsi obat tersebut, risiko kematiannya menurun.

Menurut WHO obat ini bisa menghalangi peradangan dan mengurangi risiko kematian serta kebutuhan akan ventilasi mekanis.

WHO menganalisis risiko kematian dalam 28 hari untuk pasien yang mendapatkan salah satu obat radang sendi dengan kortikosteroid seperti deksametason adalah 21%, dibandingkan dengan risiko 25% yang diasumsikan di antara mereka yang mendapat perawatan standar. Untuk setiap 100 pasien seperti itu, empat lagi akan bertahan, kata WHO.

Selain itu, risiko yang berkembang menjadi ventilasi mekanis atau kematian adalah 26% bagi mereka yang mendapatkan obat-obatan dan kortikosteroid, dibandingkan dengan 33% pada mereka dengan perawatan standar.

WHO mengatakan bahwa berarti untuk setiap 100 pasien seperti itu, tujuh lagi akan bertahan hidup tanpa ventilasi mekanis.

“Kami telah memperbarui panduan perawatan perawatan klinis kami untuk mencerminkan perkembangan terbaru ini,” kata pejabat Darurat Kesehatan WHO Janet Diaz.

Baca juga: WHO Prediksi Vaksin Booster akan Dibutuhkan Setiap Tahun

Analisis ini mencakup 10.930 pasien, di antaranya 6.449 mendapat salah satu obat dan 4.481 mendapat perawatan standar atau plasebo.

Penelitian dilakukan dengan King’s College London, University of Bristol, University College London dan Guy’s and St Thomas’ NHS Foundation Trust.

Hasil penelitian tersebut telah terbit pada hari Selasa (6/7) di Journal of American Medical Association.

WHO menyerukan bahwa lebih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan akses ke obat-obatan semacam itu di negara-negara berpenghasilan terendah.

“Mereka adalah orang-orang yang perlu dijangkau oleh obat-obatan ini,” kata Diaz.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan