Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juli 7, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Link and Match Vokasi dan Industri Belum Optimal, Ini Resep Kemendikbudristek

Kemendikbudristek

Topcareer.id – Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Wikan Sakarinto mengakui bahwa link and match atau sinergi antara pendidikan vokasi dan dunia industri sudah terlaksana, namun masih belum optimal.

Dalam webinar Sinergi Ekosistem Riset Terapan sebagai Jembatan Vokasi dan Industri pada Kamis (15/7/2021), Wikan mengatakan dunia industri masih sering komplain terhadap lulusan pendidikan vokasi.

Jika bicara link and match, kata Wikan, Kemendikbudristek sendiri menawarkan resep agar link match antara dunia industri dan vokasi bisa optimal. Wikan lantas memaparkan setidaknya ada 8 standar yang harus dilakukan yang menghasilkan kualitas link and match yang baik.

“Satu, kurikulum disusun bersama. Bahkan, di kami kurikulum akan direform agar lebih berat pada pembentukan karakter dan soft skill daripada terlalu hard skill,” jelas Wikan dalam acara webinar.

Ia menambahkan, lulusan vokasi banyak dinilai kurang dalam komunikasi, kurang mampu menghadapi tekanan dunia kerja, kualitas team work yang kurang, sehingga fokusnya adalah menyusun kurikulum bersama industri.

Kedua, lanjut Wikan, yakni project base learning. Pembelajaran berbasis project rill dari dunia kerja untuk memastikan hardskill akan disertai softskill dan karakter yang kuat.

Ketiga, yakni jumlah dan peran guru /dosen/instruktur dari industri dan ahli dari dunia kerja ditingkatkan secara signifikan (sampai minimal mencapai 50 jam per semester, per program studi).

Baca juga: 6 Etika Profesional Kerja Yang Malah Berdampak Buruk (Bagian 2)

“Lalu keempat, magang atau praktik kerja di industri/dunia kerja minimal 1 semester. Ini jangan lompat dari satu lalu langsung ke nomor empat, tidak bisa. Ini standarnya, bagian dari link and match” ujar Wikan.

Kelima, sertifikasi kompetensi yang sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja (bagi lulusan dan dosen, guru/instruktur). Keenam, dosen/guru/instruktur secara rutin mendapatkan update teknologi dan pelatihan dari dunia kerja.

Ketujuh, riset terapan mendukung teaching industry yang bermula dari kasus atau kebutuhan nyata di industri/masyarakat.

“Riset terapan kita, teaching industry itu harus bermula dari kasus nyata di industri atau di masyarakat. Sehingga kebijakan kita untuk riset terapan itu start from the end, ini mirip Jerman,” ucap Wikan.

Kedelapan, yakni komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja (bukan mengharuskan tapi komitmen kuat).

“Kami membuka diri dengan konsep 8 ini. Kami persilakan industri masuk ke kamar-kamar kita itu. Dan mari kurikulum, cara pengajaran, bahkan dosen dari industri juga kita siap terbuka. Jadi, ketika industri itu bangkit, kita sudah link and match, kita bisa bangkit bersama,” ujarnya.**(Feb)

Tinggalkan Balasan