Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juni 30, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Negara-negara Miskin Ditakutkan Tak Kebagian Pil COVID-19

Kasus Positif Covid-19 Meledak, Ini Analisis Epidemiolog UGMVirus corona COVID-19. (ilustrasi: pexels)

Topcareer.id – Rencana meluncurkan pil antivirus yang menjanjikan dari Merck & Co untuk mengobati COVID-19 berisiko mengulangi ketidakadilan distribusi vaksin.

Kehadiran pil covid dari Merck berpotensi membuat negara-negara dengan kebutuhan terbesar namun berpenghasilan rendah sekali lagi berada di belakang.

Misalnya, hanya sekitar 5% populasi Afrika yang diimunisasi, menciptakan kebutuhan mendesak akan terapi yang dapat membuat orang keluar dari rumah sakit. Itu dibandingkan dengan lebih dari 70% tingkat inokulasi di sebagian besar negara kaya.

Merck pada 11 Oktober mengajukan izin penggunaan darurat di AS untuk pil COVID-19 pertama setelah berhasil mengurangi rawat inap dan kematian sebesar 50% dalam uji klinis besar.

Obat yang dibuat dengan Ridgeback Biotherapeutics itu bisa mendapatkan izin secepatnya pada Desember 2021.

Pembuat obat A.S. telah mengambil langkah pandemi yang tidak biasa dengan melisensikan beberapa obat generik molnupiravir antivirusnya sebelum versi bermereknya bahkan disahkan untuk pemasaran.

Tetapi pejabat kesehatan internasional mengatakan bahwa obat itu tidak cukup untuk menjangkau banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam jumlah yang cukup besar.

Baca juga: Semakin Diminati, Berapa Harga Pil COVID-19 Molnupiravir?

Merck tahun ini berencana memproduksi 10 juta pil COVID-19 yang harus diminum dua kali sehari selama lima hari, dan 20 juta pil lagi tahun depan.

Selain itu, kesepakatan lisensi dengan delapan pembuat obat India akan memungkinkan versi generik yang lebih murah untuk 109 negara berpenghasilan rendah.

Langkah ini diakui oleh kelompok internasional sebagai konsesi positif.

Namun, ketika negara-negara kaya mengamankan kesepakatan pasokan obat ini, Amerika Serikat misalnya yang telah mengunci 1,7 juta kursus molnupiravir, kekhawatiran pun tumbuh tentang negara miskin yang mungkin tidak kebagian.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan