Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, November 29, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Kebijakan Nol-COVID di Hong Kong Merusak Pusat Keuangan

Sumber foto: National GeographicKota Hong Kong (Sumber foto: National Geographic)

Topcareer.id – Sebuah kelompok industri keuangan memperingatkan pada hari Senin (25/10) bahwa kebijakan nol-COVID Hong Kong dan persyaratan karantina yang ketat untuk pelancong internasional mengancam untuk merusak status kota sebagai pusat keuangan.

Asosiasi Industri Sekuritas dan Pasar Keuangan Asia (ASIFMA) mengatakan survei anggota, termasuk beberapa bank dan manajer aset terbesar di dunia, menunjukkan 48% sedang mempertimbangkan untuk memindahkan staf atau fungsi dari Hong Kong karena tantangan operasional, termasuk ketidakpastian mengenai kapan dan bagaimana pembatasan perjalanan dan karantina akan dicabut.

Hong Kong memiliki beberapa pembatasan perjalanan paling ketat di dunia dan hampir bebas COVID-19.

Namun, kota yang diperintah China itu tidak memiliki rencana publik untuk membuka diri terhadap dunia internasional.

Para pemimpin lokal mengatakan fokus mereka adalah menghapus pembatasan perjalanan dari Hong Kong ke Cina daratan, yang juga memiliki pembatasan masuk yang ketat.

Saat ini pelancong dari Hong Kong ke daratan masih harus menjalani karantina.

Baca juga: Ilmuwan Hong Kong Kembangkan Teknologi Retinal Scan untuk Deteksi Dini Autisme

“Status Hong Kong sebagai (pusat keuangan internasional) semakin berisiko seiring dengan pemulihan ekonomi jangka panjang dan daya saingnya sebagai tempat utama untuk melakukan bisnis,” tulis kepala eksekutif Mark Austen dari ASIFMA dalam surat terbuka kepada sekretaris keuangan Hong Kong, Paul Chan.

Surat itu membuat serangkaian rekomendasi termasuk menerbitkan “peta jalan untuk keluar dari strategi COVID-19 berbasis ‘nol kasus’ Hong Kong di luar semata-mata tujuan langsung membuka perbatasan dengan China,” serta memprioritaskan vaksinasi.

Hong Kong telah melaporkan lebih dari 12.300 kasus sejak awal pandemi, sebagian besar diimpor, dan 213 kematian.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan