Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Januari 25, 2022
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

7 Penyakit Paling Mematikan dalam Sejarah, Masihkah jadi Ancaman? (Bagian 2)

Topcareer.id – Pandemi virus corona yang telah terjadi hampir dua tahun belakangan ini memang menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang.

Tingkat infeksi dan kematian yang terus ada setiap harinya telah membuat banyak orang menilai COVID-19 sebagai pandemi yang mematikan.

Namun, di balik angka-angka fantastis pada laporan infeksi dan kematian akibat virus corona, ternyata masih ada penyakit lain yang lebih mematikan sepanjang masa.

Berikut ini 7 penyakit yang sangat mematikan sepanjang sejarah manusia.

Lanjutan dari bagian pertama artikel

5) Ebola
Laporan yang dikeluarkan oleh CDC menunjukkan bahwa 28.616 orang terinfeksi Ebola yang dikonfirmasi atau kemungkinan, dan 11.310 meninggal selama wabah 2014-2016.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan berakhirnya wabah Ebola di Liberia pada tanggal 9 Juni 2016, selalu ada risiko Ebola di negara-negara dengan sistem kesehatan yang sangat lemah dan di mana virus tersebut banyak menyerang hewan liar.

Sejak tahun 2018, Republik Demokratik Kongo bagian timur telah mengalami wabah Ebola, dan upaya untuk menahannya terhambat oleh konflik dan kekerasan di daerah tersebut.

Pada 1 Juni 2020, wabah Ebola baru terdeteksi di barat laut Kongo, dan 7 Februari 2021 di Butembo, Provinsi Kivu Utara Kongo.

Namun wabah terbaru dengan cepat dikendalikan dengan pelacakan kontak dan vaksinasi lebih dari 2000 orang berisiko tinggi.

11 kasus yang dikonfirmasi termasuk 6 kematian telah dilaporkan ketika wabah secara resmi dinyatakan berakhir pada 3 Mei 2021.

Pada bulan Desember 2019, Ervebo (Vaksin Ebola Zaire, hidup) disetujui untuk orang dewasa di atas usia 18 tahun.

Ervebo diberikan sebagai dosis tunggal, secara intramuskular. Tidak diketahui berapa lama Ervebo melindungi dari Ebola.

Pada Oktober 2020, Inmazeb menjadi pengobatan pertama yang disetujui oleh FDA untuk Zaire ebolavirus. Obat ini diberikan sebagai infus intravena tunggal (dosis satu kali).

Baca juga: Waspada! Ini 7 Penyakit Umum Pekerja Kantoran

6) Kusta
Kusta adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang tumbuh lambat, Mycobacterium lepraehas.

Virus penyakit ini memiliki masa inkubasi yang panjang, dua hingga lima tahun dan gejala biasanya dimulai sebagai mati rasa atau kehilangan perasaan di area kulit tertentu.

Gejala tersebut mencerminkan afinitas bakteri terhadap sel saraf. Meskipun tidak terlalu menular, kusta telah ditakuti dan disalahpahami sepanjang sejarahnya.

Awalnya dianggap sebagai kutukan atau hukuman dari Tuhan, penderita kusta distigmatisasi dan dipaksa memakai pakaian khusus.

Gejala bervariasi dari orang ke orang, dan cenderung berkembang seiring waktu, mulai dari lesi kulit hipopigmentasi ringan dan tak tentu hingga kebutaan, deformitas, serta kerusakan wajah yang parah.

7) Polio
Polio adalah penyakit menular yang melumpuhkan dan seringkali berakibat fatal. Anak-anak di bawah usia lima tahun sangat rentan.

Meskipun epidemi periodik terjadi selama akhir abad ke-19, lonjakan prevalensi yang terjadi pada tahun 1940-an dan awal 1950-an yang memicu dimulainya kampanye vaksinasi polio di seluruh dunia.

Polio disebabkan oleh virus polio yang sangat menular dan tangguh kemudian menyebar dari orang ke orang, paling sering melalui kontak dengan kotoran yang terinfeksi.

Kotoran dapat tetap menular selama beberapa minggu, seperti halnya makanan, air, atau benda yang terkontaminasi oleh feses.

Sekitar 72% orang yang terkena polio tidak menunjukkan gejala. Dua puluh lima persen mengembangkan gejala seperti flu dalam satu atau dua minggu setelah infeksi.

Sebagian kecil dari orang-orang ini akan terus mengembangkan gejala yang lebih parah.

Gejalanya seperti parestesia (nyeri anggota badan seperti terbakar atau tertusuk), meningitis (infeksi otak dan sumsum tulang belakang), kelemahan anggota badan, dan kelumpuhan yang dapat menyebabkan cacat permanen dan kematian jika otot-otot pernapasan terpengaruh.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan