Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, Januari 24, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Aturan Ketat COVID-19 Diduga Mengganggu Kesehatan Mental Pilot

Ilustrasi: Kapanlagi

Topcareer.id – Salah satu maskapai penerbangan terbesar di Asia, Cathay Pacific, menghadapi pemberontakan dari para pilot.

Mereka mengatakan bahwa aturan ketat karantina Hong Kong di bawah kebijakan nol-COVID membahayakan kesehatan mental mereka.

Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya stres para pilot maskapai sehingga angka pengunduran diri pun bertambah.

Cathay Pacific Airways Ltd baru saja memecat tiga pilotnya yang melanggar aturan perusahaan karena meninggalkan kamar hotel mereka selama singgah di Frankfurt dan kemudian dinyatakan positif COVID-19.

Pemerintah menanggapi dengan memaksa lebih dari 270 orang, termasuk anak-anak sekolah yang terkait dengan keluarga pilot tersebut untuk dikirim ke kamp karantina negara.

Contoh ekstrem dari tindakan pencegahan terkait pandemi di bawah kebijakan nol-COVID China menyoroti kondisi kerja yang sulit yang dihadapi pilot Cathay.

Saingan Cathay termasuk Qantas Airways Ltd Australia telah mulai melonggarkan kebijakan singgah yang ketat tetapi pemerintah Hong Kong memperketat aturan lebih jauh seperti aturan transportasi darat.

“Saya rasa saya tidak bisa melanjutkan ini,” kata seorang pilot Cathay kepada Reuters. “Hanya stres dari potensi karantina keluarga serta teman-teman saya yang menjadi korban.” Tambahnya.

Beberapa pilot Cathay saat ini dan yang baru saja kembali bertugas mengatakan kepada tekanan mental dan pengunduran diri meningkat setelah banyak yang gajinya dipotong secara permanen sebanyak 58%.

Stres yang ekstrim adalah masalah yang signifikan dalam sebuah industri, dan tanda-tanda masalah psikologis karyawan membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain.

Baca juga: Bisakah Pilot Boeing Menerbangkan Pesawat Airbus?

Pilot juga menyatakan frustrasi dengan ambiguitas beberapa aturan terkait pandemi yang diberlakukan pemerintah.

Misalnya pilot diminta untuk menghindari “kontak sosial yang tidak perlu” selama tiga minggu setelah kembali ke Hong Kong, tetapi mereka tidak diberikan waktu istirahat sebagai kompensasi.

Cathay mengakui kepada Reuters dalam sebuah pernyataan bahwa pengunduran diri pilot telah meningkat melampaui level normal sejak akhir Oktober.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan