Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Januari 22, 2022
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

6 Perilaku Buruk yang Hancurkan Efektivitas Kamu sebagai Manajer

Ilustrasi. (dok. Mindhackinghappiness)

Topcareer.id – Jika kamu menjelajahi literatur tentang kepemimpinan, ada aturan konsisten yang berfokus pada perilaku baik yang disarankan para ahli untuk diadopsi oleh para manajer.

Sebagian besar pekerjaan manajer seharusnya lebih terfokus pada membimbing anak buah menjauh dari perilaku manajemen yang buruk.

Perilaku buruk membatasi diri dan tidak menyenangkan serta menghambat kinerja tim atau perusahaan.

Berikut ini ada beberapa perilaku buruk yang sebaiknya dihindari agar reputasimu sebagai manajer yang baik tidak hancur karenanya.

Mikro manajemen staf
Jika kamu mendapati diri terus-menerus mengawasi staf kamu dan menghabiskan banyak waktu untuk memberi tahu apa yang harus dilakukan, kemungkinan besar kamu adalah seorang micro manager.

Meskipun kamu membela diri dengan mengatakan, “Tidak ada yang dilakukan dengan benar jika saya tidak memberi tahu apa yang staf saya harus lakukan,” kamu akan tetap dicap sebagai manajer yang buruk.

Biaya atas perilaku ini sangat tinggi terkait dengan moral, pergantian karyawan, dan kontribusinya terhadap lingkungan kerja yang buruk.

Mengubah perilaku ini biasanya membutuhkan pelatihan dan umpan balik yang cukup.

Mengkritik karyawan di depan umum
Para profesional pendidikan telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa kebijakan terbaik adalah memuji di depan umum dan mendisiplinkan secara pribadi.

Dengan mengkritik atau menegur seorang karyawan di depan umum, kamu menunjukkan perilaku sebagai manajer yang beracun.

Perilaku beracun ini menurunkan moral individu yang menerima ledakan amarahmu dan memposisikan kamu sebagai manajer yang benar-benar menyedihkan.

Tidak pernah ada waktu yang tepat untuk menyerang seseorang, terlepas dari seberapa kesal kamu karena kesalahan mereka.

Belajarlah membuat sesi diskusi pribadi di mana kamu dapat dengan tenang mendiskusikan dampak kesalahan staf terhadap bisnis, kemudian bersama-sama kembangkan rencana peningkatan.

Menyembunyikan hasil kinerja karyawan
Beberapa manajer berpikir stafnya tidak akan peduli dengan gambaran hasil kinerja.

Banyak manajer lebih suka membuat stafnya tidak mengetahui hasil kerja mereka sambil berasumsi salah bahwa staf hanya perlu fokus pada pekerjaan mereka saja.

Pada kenyataannya, orang melakukan pekerjaan terbaik mereka ketika mereka memiliki konteks yang jelas tentang bagaimana hal itu terhubung dengan hasil kerja mereka meskipun hasilnya buruk.

Menimbun informasi hasil kinerja akan menghasilkan ketidakpastian dan ketakutan dari para staf.

Memberikan umpan balik yang merusak
Feedback atau umpan balik adalah alat kinerja yang kuat. Namun, ketika disalahgunakan, itu bisa menjadi racun bagi moral dan kinerja.

Kritik yang tidak spesifik tidak ada artinya, melainkan hanya sikap buruk yang tersirat.

Kebanyakan manajer tidak pernah dilatih untuk menggunakan alat kinerja yang kuat ini.

Belajarlah mengenali kebiasaan umpan balik yang buruk dan berusaha menghilangkannya untuk umpan balik konstruktif dan positif.

Ini penting untuk kesuksesan dan membangun lingkungan kerja yang sehat di mana individu merasa dihormati serta dihargai.

Baca juga: Tips Bersosialisasi dengan Manajer setelah Jam Kerja

Mengklaim sendiri hasil kerja anggota tim
Banyak manajer memiliki sifat buruk ini dengan mengakui hasil kerja anggota timnya sebagai hasil pekerjaan dia sendiri.

Perilaku ini dijamin menghancurkan semua kepercayaan dan melumpuhkan kreativitas serta inovasi.

Manajer yang efektif belajar untuk mengarahkan sorotan tepat pada anggota timnya alih-alih mencurinya.

Menunjuk dengan jari saat staf melakukan kesalahan
Menutupi kesalahan kamu dengan menyalahkan staf atas masalah yang terjadi dalam tim dan memarahi staf dengan menunjukan jari merupakan perilaku yang tidak dapat diterima.

Ingat, ketika kamu menunjuk satu jari pada seseorang, kamu memiliki tiga jari lain yang menunjuk kembali pada dirimu.

Pemimpin yang efektif memahami bahwa mereka bertanggung jawab atas hasil kerja anggota tim mereka.

Ketika semuanya berjalan lancar, manajer yang baik memberikan penghargaan kepada semua orang di sekitarnya.

Namun, ketika ada yang salah, mereka mengambil langkah kegagalan tanpa menyalahkan staf sepenuhnya.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan