Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Oktober 5, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19Tren

Satgas Beberkan 4 Data dan Fakta Terkini Soal Covid-19, Tren Rawat Inap Naik

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito beberkan kunci silaturahmi dan mudik aman selama pandemi.Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito. (dok. Satgas Covid-19)

Topcareer.id – Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito memaparkan kondisi terkini COVID-19 di Indonesia. Ia mengatakan, ada 4 fakta dan data terkini di lapangan yang harus dicermati.

Pertama, kata Wiku, angka reproduction rate seluruh Pulau di Indonesia per minggu ini. Seluruhnya sudah berada di atas angka 1 (1,02-1,12). Yang artinya penularan masih ada dan terjadi di komunitas dengan pola penambahan kasus berlipat atau eksponensial. Angka ini perlu diamati selama 2 minggu ke depan.

“Sebelum bisa menjustifikasi dengan objektif, bahwa secara kondisi penularan cukup mengkhawatirkan sebagai dasar penyesuaian kebijakan,” kata Wiku dalam keterangan persnya pada Selasa (8/2/2022).

Kedua, banyaknya kasus harian di beberapa daerah yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Bali bahkan melampaui pola kenaikan pada periode gelombang kedua yang dipicu varian Delta. Hal ini berpotensi memunculkan gelombang kasus baru di Indonesia.

Ketiga, terjadi tren kenaikan rawat inap di rumah sakit secara konsisten sejak 21 Januari 2022. Jika tidak segera diantisipasi, maka dapat menyebabkan peningkatan keterisian rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Keempat, persentase penyumbang kematian terbanyak orang dengan usia lanjut, pengidap komorbid, dan orang yang belum divaksinasi.

“Jika angka kematian terus memuncak maka berpeluang menyebabkan peningkatan kebutuhan alat, material, dan obat-obatan COVID-19 dalam jumlah besar,” sambung Wiku.

Untuk itu, menimbang kondisi yang terjadi saat ini di lapangan, perlu kembali dievaluasi dan ditingkatkan implementasinya oleh masyarakat.

Baca juga: Omicron Menyerang, Kasus COVID-19 Di Indonesia Masih Paling Terkendali Di Asia

Pertama, disiplin menjalankan protokol kesehatan dan secara sukarela melengkapkan dosis vaksinasi. Hal ini penting dipahami, karena orang yang patuh protokol kesehatan masih bisa terkena. Untuk itu perlunya mengevaluasi kedisiplinan secara kolektif termasuk melengkapinya dengan vaksinasi untuk bisa saling menjaga.

Khususnya terkait efektivitas vaksinasi, merujuk dari Studi Buchan dkk, di Ontario Kanada (2021), menyatakan bahwa kekebalan terhadap COVID-19 pada individu akan semakin tinggi seiring dosis vaksinasi yang diterima, bahkan lebih tinggi 25% terhadap varian Omicron setelah mendapatkan booster dosis ketiga.

Kedua, proaktif melakukan testing. Hal ini dikarenakan sekalipun tak bergejala, kasus positif masih bisa menularkan. Dengan testing, maka seseorang hanya bisa secara valid dinyatakan terpapar. Dan sudah seharusnya seseorang memiliki kesadaran tinggi terhadap aktivitas yang dilakukannya.

Seperti, orang yang pasca berkontak erat dengan kasus positif atau habis melakukan perjalanan sudah seharusnya secara sukarela melakukan testing untuk memastikan, termasuk orang-orang yang sudah merasakan gejala mirip COVID-19.

Masyarakat juga harus membatasi mobilitas terutama yang tidak mendesak serta menjauhi aktivitas di area kerumunan/ramai. Perlu diingat bahwa semakin jauh kita berpindah tempat maka semakin besar peluang bertemu banyak orang. Begitu juga ketika beraktivitas di tempat ramai.

Tinggalkan Balasan