Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Rabu, Februari 1, 2023
redaksi@topcareer.id
Tren

Ilmuwan Belgia Lakukan Penelitian Respon Babi Terhadap Musik

Babi. Dok/Southern LivingBabi. Dok/Southern Living

Topcareer.id – Para ilmuwan di Belgia sedang menyelidiki klaim seorang petani di sana yang bernama Piet Paesmans bahwa gaya musik yang berbeda bisa mempengaruhi perilaku babinya.

Paesmans pertama kali melihat fenomena tersebut ketika putranya mulai menyanyikan lagu di gudang selama sesi inseminasi, induk babi tampak bersemangat dan mulai mengibaskan ekornya.

“Saya pikir ini terlalu bagus untuk dilewatkan, kita harus mencobanya dengan babi lain juga,” kata Paesmans kepada Reuters dari peternakannya di antara Brussel dan perbatasan Belanda.

Sejak saat itu, dia telah membuat playlist lagu khusus untuk babi-babinya.

Ia akan memainkan musik energik ketika Paesmans ingin babi-babinya lebih aktif dan memutar lagu pengantar tidur di penghujung hari.

“Lagu-lagu jolly dance adalah yang paling hits. Mereka benar-benar mulai mengibas-ngibaskan ekor mereka ketika musik diputar dan mereka bahkan mulai menari-nari sambil bermain-main. Namun, musik rock terlalu kuat, mereka tidak menyukainya,” kata Paesmans.

Petani itu memberi tahu tim peneliti yang telah mendapatkan 75.000 euro pembiayaan dari dana Uni Eropa dan wilayah Flanders Belgia untuk menjalani penelitian atas klaim tersebut.

Menurut koordinator proyek penelitian Sander Palmans, tidak banyak yang diketahui tentang reaksi babi terhadap musik, tetapi pengalaman Paesman berpadu dengan pengetahuan yang ada tentang efek suara secara umum pada hewan.

Baca juga: Transplantasi Jantung Babi ke Manusia, Terobosan Baru di Dunia Medis

“Tidak diragukan lagi ada efek suara tertentu pada hewan. Jadi sangat mungkin bahwa musik dapat memiliki efek yang sama,” katanya, seraya menambahkan bahwa musik dapat membantu menghilangkan kebosanan yang dikaitkan dengan stres.

Temuan ini dapat memiliki dampak praktis bagi industri karena kualitas daging dipengaruhi oleh tingkat stres pada hewan, kata Paesmans.

Hasil penelitian diharapkan terbit pada akhir tahun 2022.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan