Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Oktober 8, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Satu Lagi Korban Blackout Challenge Meninggal Dunia, Begini Kisahnya!

Ilustrasi. Dok/In the KnowIlustrasi. Dok/In the Know

Topcareer.id – Salah satu korban tren viral nan berbahaya ‘Blackout challenge,’ Archie Battersbee (12 tahun) dari Inggris akhirnya meninggal pada hari Sabtu (6/8/2022), 2 jam setelah dokter di rumah sakit Royal London mencabut alat bantu hidupnya, di bawah perintah pengadilan.

Archie, yang menyukai senam dan seni bela diri, telah koma selama empat bulan usai mengalami otak permanen pada 7 April. Namun ia tetap hidup berkat alat bantu hidup atau respirator yang dipasangkan kepadanya.

Setelah kalah dalam pertempuran hukum yang dramatis untuk membuatnya tetap menggunakan respirator, keluarganya akhirnya mengumumkan jika dia telah tiada.

“Statistiknya tetap benar-benar stabil selama 2 jam sampai mereka benar-benar menghilangkan ventilasi dan dia menjadi benar-benar biru,” kata kerabat dekat Archie, Ella Carter kepada The Guardian.

“Sama sekali tidak ada yang bermartabat melihat seorang anggota keluarga atau seorang anak mati lemas. Tidak ada keluarga yang harus melalui apa yang telah kita lalui, ini biadab.”

Diceritakan oleh Ibunya, Hollie Dance, ia menemukan Archie tidak sadarkan diri dengan sebuah pengikat kepalanya. Dance meyakini, anaknya kala itu sedang mencoba blackout challenge yang tengah viral di media sosial.

Blackout challenge adalah tantangan dimana seseorang mencoba menahan napas sampai pingsan karena kekurangan oksigen. Tercatat, sedikitnya sudah ada tujuh anak di bawah usia 12 tahun di Amerika Serikat dan Eropa yang tewas karena tantangan ini.

Baca juga: Mengenal Blackout Challenge, Tren yang Mengancam Nyawa

“Dia anak laki-laki yang sangat tampan,” kata Dance kepada The Guardian sambil menangis di luar rumah sakit Royal London. “Dia berjuang sampai akhir dan saya sangat bangga menjadi ibunya.”

Seperti diketahui, Keluarga Archie telah mencoba setiap jalan hukum ke Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Banding Inggris, serta Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa.

Bulan lalu, Hakim Justice Hayden memutuskan dengan “penyesalan paling mendalam” bahwa Archie mengalami kondisi “mati batang otak” dan tidak memiliki prospek untuk pulih. Dia mengatakan itu adalah kepentingan terbaik Archie untuk menghentikan perawatan medis.

Dalam keputusannya, hakim mengatakan “setiap aspek fungsi tubuh Archie dipertahankan secara artifisial melalui dukungan ventilasi, bantuan kimia dan perawatan fisik yang diberikan oleh perawat.”

“Ini adalah pencapaian medis yang luar biasa, tetapi tantangan moral dan etika yang ditimbulkannya sangat jelas,” tulis hakim.

Terkait kondisi Archie, Dance mengatakan belum ada satu hari pun sejak 7 April yang “benar-benar tidak buruk.”

“Ini sangat sulit,” katanya kepada The Guardian. “Meskipun tetap terlihat tegar di depan kamera sampai sekarang, saya sudah cukup rusak.”

“Saya telah melakukan semua yang saya janjikan kepada anak laki-laki saya, dan aku sudah melakukannya.” Tutup Dance.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan