Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Oktober 8, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Peringati 77 Tahun Bom Hiroshima, Jepang Minta Senjata Nuklir Dihilangkan

Dok/Pikiran RakyatDok/Pikiran Rakyat

Topcareer.id – Sabtu (6/8/22) kemarin, Kota Hirohima di Jepang melakukan peringatan 77 tahun serangan nuklir AS yang menewaskan sekitar 140.000 orang, pada hari-hari akhir Perang Dunia II.

Perwakilan dari 99 negara dan Uni Eropa menghadiri upacara tahunan di Peace Memorial Park, di mana kerumunan berkumpul untuk mengheningkan cipta pada pukul 08:15, jam yang sama ketika bom uranium AS diledakkan di atas kota pada 6 Agustus 1945.

Tercatat, tiga hari kemudian, bom kedua dijatuhkan dan membunuh 70.000 orang di Nagasaki.

Dalam sambutannya, Walikota Hiroshima Kazumi Matsui membuat permohonan tegas kepada para pemimpin dunia agar menghilangkan keberadaan senjata nuklir.

“Menerima status quo dan meninggalkan cita-cita perdamaian yang dipertahankan tanpa kekuatan militer, sama dengan mengancam kelangsungan hidup umat manusia,” kata Matsui, menurut Kyodo News.

Dalam momen peringatan itu, Walikota mengundang para pemimpin dunia untuk mengunjungi Hiroshima atau Nagasaki, untuk “secara pribadi melihat konsekuensi dari penggunaan senjata nuklir.”

“Saya ingin mereka memahami bahwa satu-satunya cara pasti untuk melindungi kehidupan dan harta benda rakyat mereka adalah dengan menghilangkan senjata nuklir,” tambah Matsui.

Baca juga: Ditinggal Pergi McDonald’s, Rusia Bikin McD versi Sendiri dengan Merek Baru

Invasi Rusia ke Ukraina

Sementara itu, dalam bayang-bayang invasi Ukraina oleh Rusia, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa “perlombaan senjata baru semakin cepat,” dan negara-negara nuklir harus berkomitmen untuk “tidak menggunakan” persenjataann nuklir mereka.

“Ambil opsi nuklir dari meja untuk selamanya,” ucap António Guterres. “Sudah waktunya untuk menyebarkan perdamaian.”

Rusia dan Belarusia tidak diundang untuk menghadiri pembicaraan tersebut. Kekhawatiran tumbuh di antara para pemimpin dunia bahwa pembantaian nuklir ketiga dapat terjadi di tengah invasi ke Ukraina.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan