Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Januari 28, 2023
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

Gagal Mendapatkan Wawancara Kerja Kedua? Mungkin Ini Sebabnya (Bagian 2)

wawancara kerja dengan pertanyaan klasik jangan diabaikan.

Topcareer.Id – Pencarian pekerjaan memang tak hanya penuh dengan tantangan, namun juga dekat dengan rasa frustrasi.

Tak ada yang lebih menyebalkan daripada terus-menerus terjebak pada titik yang sama, dalam proses wawancara. Salah satunya adalah ketika kamu menjalani wawancara pertama, namun tak dipanggil dalam wawancara berikutnya.

Kabar baiknya, ada penjelasan yang cukup melegakan terkait tidak adanya panggilan wawancara kedua. Ini bisa kamu jadikan peluang untuk menyadari kesalahan yang tak sengaja kamu lakukan, agar bisa lebih baik lagi dalam kesempatan-kesempatan berikutnya.

Bagian akhir dari artikel

Alasan kamu tidak mendapatkan wawancara kedua, dengan kamu sebagai penyebab utamanya

Kamu mengacaukan Wawancara Pertama
Mungkin saja kamu memanggil manajer perekrutan dengan nama yang salah, atau kamu tidak memiliki wawasan yang banyak tentang perusahaan yang kamu lamar (dan itu terlihat).

Bisa juga kamu gagal menjelaskan mengapa kamu menginginkan pekerjaan itu, atau salah memberikan jawaban atas pertanyaan wawancara standar lainnya. Yang paling fatal sih, kamu terlambat datang atau berperilaku kasar.

Jika kamu merasa ada di antara contoh di atas yang jadi penyebabnya, belajarlah dari kesalahan dan lakukan yang lebih baik di lain waktu.

Oh ya, jangan juga terlalu menyalahkan diri sendiri, karena wawancara buruk terjadi pada semua orang.

Gagal Menceritakan Keahlianmu
Sebelum menginjakkan kaki di tempat wawancara, kamu harus mempersiapkan jawaban yang bagus, termasuk beberapa cerita pendek tentang bagaimana keterampilan dan kualifikasi kamu bisa sesuai dengan persyaratan mereka. Dalam hal ini, meninjau iklan dan deskripsi pekerjaan dapat sangat membantu.

Namun, Itu tidak berarti bahwa kamu harus menunggu ditanya untuk menyampaikan hal itu. Terkadang, jika memungkinkan, kamu bisa menyelipkan cerita hebat kamu di antara jawaban-jawaban yang kamu berikan, tanpa terasa dipaksakan. Ini akan memberi kamu keunggulan dalam persaingan yang terjadi.

Selain itu, penting juga untuk memastikan kalau fokus cerita anda relevan dengan posisi yang mereka butuhkan.

Misalnya, keterampilan kepemimpinan kamu mungkin mengesankan, tetapi menceritakan itu akan merugikan kalau perusahaan tidak sedang mencari manajer, atau mereka takut jika kamu akan menjadi begitu dominan ketika nanti dipekerjakan.

Jadi, ingat, selalu cerita seperlunya, dengan fokus yang tepat.

Baca juga: Yang Lahir sebelum 1980 Kebal terhadap Cacar Monyet, Kok Bisa?

Tidak mengikuti Petunjuk
Dalam proses wawancara, penting untuk mengikuti arahan. Contohnya mengirim materi yang diminta, (resume, surat lamaran, portofolio, dll) dan menggunakan format file yang ditentukan.

Terlalu Gigih
Menindaklanjuti setelah wawancara kerja itu mungkin memang baik, seperti mengucapkan terima kasih dan mengingatkan minat kamu pada pekerjaan itu.

Tetapi, jangan sampai terlihat seperti kamu sedang menguntit manajer perekrutan. Jika telah mengirim ucapan terima kasih dan email tindak lanjut, dan belum mendapat balasan, mungkin sebaiknya kamu melepaskannya.

Tidak ada yang mau bekerja dengan seseorang yang tidak pernah berhenti meminta dan suka memaksakan kehendak.

Media Sosial terlalu Terbuka
Menurut survei CareerBuilder, 57% pengusaha telah memutuskan untuk tidak mempekerjakan kandidat berdasarkan sesuatu yang mereka temukan secara online.

Jika media sosial kamu berisi materi yang mungkin dianggap tidak pantas oleh calon atasan, cobalah untuk mengarsipkannya.

Referensi yang Kamu Sodorkan tidak Berpihak Kepadamu Pernahkah kamu memikirkan hal ini? Terutama tentang apa yang akan mereka ceritakan kepadamu? Daripada menebak-nebak, lebih baik pastik

Referensi yang Kamu Sodorkan tidak Berpihak Kepadamu
Pernahkah kamu memikirkan hal ini? Terutama tentang apa yang akan mereka ceritakan kepadamu? Daripada menebak-nebak, lebih baik pastikan.

Pertama, pastikan kamu meminta referensi dari orang-orang yang akrab dengan pekerjaan kamu, dan yang pasti akan mengatakan hal-hal baik tentang kamu.

Selalu tanyakan referensi potensial, apakah mereka bersedia dan mampu membuktikan kualitas baik kamu ke perekrut. Agar kamu tidak terlihat gagal di mata perekrut.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan