Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Februari 4, 2023
redaksi@topcareer.id
Tren

Ini Tanda Kamu Tak Cocok jadi Pemimpin! (Bagian 1)

Dok/PixabayDok/Pixabay

Topcareer.id – Banyak yang belum memahami, bahwa kepemimpinan ditunjukkan melalui kompetensi, bukan sikap, kepercayaan, atau karisma. Dibutuhkan kemampuan dan keterampilan untuk bisa mencapai posisi tersebut.

Itulah mengapa, satu-satunya keputusan terbesar yang akan dibuat oleh organisasi mana pun, adalah memilih seseorang untuk menjadi manajer.

Ya! Kita semua pernah mendengar kalimat ini: “Orang meninggalkan manajernya, bukan perusahaan.”

Dan berikut ada beberapa tanda krusial yang akan menunjukkan bahwa seseorang tidak cocok untuk memimpin.

Manajer yang hanya mengurus dirinya sendiri
Manajer tipe ini tidak peduli dengan pemenuhan misi perusahaan, atau menyelaraskan tujuan tim dengan tujuan organisasi.

Ini tentang kinerja individu, dan tentang bagaimana ia mendapatkan bonus tahunan yang didambakan.

Manajer dengan sikap ini hanya akan menjilat di belakang jajaran direktur, dan hanya peduli tentang pencapaian mereka sendiri.

Baca juga: Saat Meta Hingga Amazon PHK Massal, TikTok Malah Terus Buka Rekrutmen

Kecenderungan narsistik
Manajer ini sering meremehkan pekerjaan anggota tim, dan bahkan mungkin mengejek stafnya dalam rapat.

Ketika dia membutuhkan sesuatu dari kamu, dia mungkin akan mengancam.

Pada titik paling beracunnya, dia akan mengeluarkan sisi narsistiknya hingga membuat stafnya meragukan diri sendiri.

Memperlakukan orang seperti angka
Dalam struktur kekuasaan top-down, karyawan dianggap sebagai objek atau pengeluaran daripada aset.

Hanya ada sedikit perhatian untuk kebahagiaan atau kesejahteraan karyawan, karena motif mempekerjakan adalah murni produktivitas dan keuntungan.

Dalam hal ini, hanya ada sedikit bukti bahwa para pemimpin menunjukkan belas kasih dan empati dalam melihat karyawan sebagai manusia yang berharga.

Akibatnya, karyawan hanya akan menghadapi stres tingkat tinggi, turn over tinggi, banyak karyawan absen, hingga kelelahan.

the authorFeby Ferdian

Tinggalkan Balasan