TopCareer.id – Dinamika dunia kerja saat ini menuntut pimpinan perusahaan untuk tak cuma fokus pada target bisnis, namun juga membangun budaya kerja yang adaptif di tengah perbedaan generasi dan budaya.
Bagi praktisi Human Resource (HR) dan pimpinan bisnis, kini juga harus memikirkan agar kolaborasi tim tetap berjalan di tengah perbedaan yang rentan menimbulkan gesekan internal.
Widyo Rulyantoko, Head of Asia Pacific Business Admin Group Hyundai Motor mengatakan, kepemimpinan saat ini bukan cuma soal mengarahkan tim untuk mencapai target.
Dalam siniar Power Talks Jobstreet by SEEK, Widyo mengatakan kepemimpinan juga tentang bagaimana kita membangun titik temu di tengah perbedaan budaya, generasi, dan cara kerja.
“Pemimpin perlu memastikan energi organisasi tetap fokus ke luar, ke tantangan bisnis dan kompetitor, sambil tetap menjaga empati terhadap orang-orang di dalamnya,” kata Widyo.
Widyo pun mengungkapkan bahwa ada lima tips bagi para pimpinan perusahaan untuk membangun organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan berdaya saing.
- Pimpinan harus pastikan tim bertarung melawan kompetitor, bukan sesama rekan kerja
Dalam organisasi lintas fungsi hingga lintas negara, perbedaan cara kerja kerap memunculkan gesekan internal.
Widyo menegaskan, pimpinan perlu terus mengingatkan tim bahwa “pertarungan” yang sebenarnya ada di luar perusahaan, yaitu menghadapi perubahan pasar dan kompetitor.
“Dengan begitu, energi tim dapat diarahkan untuk tujuan bisnis yang lebih besar, bukan habis dalam konflik internal,” kata Widyo, mengutip siaran pers, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Pencari Kerja RI Didorong Cari Pekerjaan yang Relevan dengan Dirinya
- Kepemimpinan yang efektif harus mampu menjembatani perbedaan budaya
Menurut Widyo, bekerja dalam lingkungan regional maupun global menuntut pemimpin untuk piawai membaca konteks budaya.
Dia pun menyoroti pentingnya menemukan common ground di tengah perbedaan gaya kerja, prioritas, dan ekspektasi antarnegara.
Menurutnya, keterbukaan, kemampuan bernegosiasi, dan pemahaman terhadap prioritas bersama menjadi kunci agar kolaborasi lintas budaya berjalan efektif.
- Gen Z perlu dipimpin dengan “purpose” yang jelas, bukan cuma instruksi
Generasi muda, termasuk Gen Z, perlu memahami alasan di balik sebuah pekerjaan. Bukan hanya menerima arahan teknis.
Karena itu, Widyo mengatakan pemimpin perlu memberikan konteks, tujuan, dan dampak dari pekerjaan yang dilakukan, lalu memberi ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi cara terbaik dalam mengeksekusinya.
“Pendekatan ini dapat membantu organisasi mendorong inovasi sekaligus membangun rasa kepemilikan yang lebih kuat,” kata Widyo.
Baca Juga: Makin Banyak Warga Indonesia Berminat Kerja di Luar Negeri
- Tempatkan HR sebagai business leader, bukan hanya fungsi administratif
Widyo menilai, peran HR kini tak lagi cukup jika hanya fokus pada administrasi atau operasional Sumber Daya Manusia (SDM).
“HR perlu hadir sebagai business leader yang memahami strategi perusahaan, mengelola organisasi, menyiapkan talenta, dan membangun budaya kerja yang mendukung keberlanjutan bisnis,” kata Widyo.
Pergeseran cara pandang ini menjadi semakin penting ketika perusahaan menghadapi perubahan yang cepat dan kompleks.
Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, mengatakan, HR kini perlu hadir sebagai business leader yang bisa menjembatani kebutuhan bisnis dengan kebutuhan manusia di dalam organisasi.
“Ini menjadi semakin penting ketika perusahaan harus bergerak cepat, tetapi tetap menjaga budaya kerja yang sehat dan kolaboratif,” pungkasnya.
- Empati tetap jadi fondasi penting saat organisasi menghadapi masa transisi
Di tengah tekanan bisnis dan perubahan organisasi, Widyo menekankan bahwa keputusan sulit tetap perlu dijalankan dengan empati.
Bagi pimpinan HR, menjaga martabat, komunikasi, dan kemanusiaan dalam setiap proses transisi menjadi hal yang tak kalah penting dari aspek bisnis itu sendiri.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat bukan cuma soal ketegasan, tapi juga soal kemampuan memanusiakan orang dalam situasi yang tidak mudah.






