Lifestyle

Diabetes Tipe 2 Kini Mengintai Remaja

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono Canisius Health Expo 2026 di Kolese Kanisius, Minggu (24/5/2026). (Dok: Kemenkes)

TopCareer.id – Diabetes tipe 2 kini bukan lagi penyakit yang hanya mengintai kelompok usia lanjut.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, kasus dibates tipe 2 saat ini juga banyak ditemukan pada masyarakat breusia remaja, termasuk pada anak Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dalam sambutannya di Canisius Health Expo 2026 di Kolese Kanisius, Minggu (24/5/2026), Dante mengatakan pergesera tren penyakit ini bukan cuma karena faktor genetik, namun juga perubahan drastis pada gaya hidup.

Dante mengungkapkan, dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas.

“Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ujarnya, mengutip laman resmi Kemenkes, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: Tren Konsumsi Minuman Manis Naik, Waspada Kebablasan!

Dante menyebut, generasi muda saat ini banyak yang kekurangan aktivitas fisik, memiliki screen time yang tinggi, kurang tidur, serta mengonsumsi gula dan makanan ultra-proses berlebihan.

Tekanan mental yang dihadapi remaja masa kini juga dianggap memperburuk kondisi tersebut. Bahkan, diabetes tipe 2 pada remaja cenderung berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa.

Untuk itu, Wamenkes mengingatkan solusi utama bukan cuma dengan pengobatan, namun mengubah kebiasaan yang dimulai dari rumah.

“Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga,” kata Dante.

Baca Juga: Biar Bijak Konsumsinya, Kenali Jenis-Jenis Gula

Di sisi lain, Dante mengatakan pemerintah sudah melakukan sejumlah langkah untuk merespon ancaman diabetes di usia muda.

Dua langkah yang disorot adalah Cek Kesehatan Gratis ke 25 juta anak sekolah, serta menerapkan “nutri-level” atau pelabelan pada kemasan makanan dan minuman untuk mengedukasi masyarakat terkait kadar gula.

Menurut Dante, berdasarkan pemeriksaan di sekolah, masalah lain yang banyak ditemukan pada remaja termasuk hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.

Wamenkes pun mengingatkan pada pelajar dan orang tua, bahwa nilai rapor bukan satu-satunya tolok ukur kesuksesan.

“Tubuh adalah modal pertama dari semua cita-cita yang ingin dicapai. Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menjalani hidup yang bermakna,” pungkasnya.

Leave a Reply