LifestyleTren

Marak Orang Kaya Palsu, Pakar Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi orang kaya palsu. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Fenomena fake rich middle class atau kelas menengah kaya semu atau palsu kerap terjadi di media sosial.

Fenomena ini menggambarkan kelompok masyarakat atau yang terlihat mapan secara gaya hidup, padalah sebenarnya fondasi keuangannya rapuh.

Tanti Novianti, dosen sekolah bisnis IPB University menyebut, adanya orang kaya palsu ini terkait dengan dinamika pertumbuhan kelas menengah di negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Bank Dunia mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok dengan daya beli yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mengakses konsumsi nonesensial seperti rekreasi, pendidikan, dan teknologi,” kata Tanti.

“Namun di balik peningkatan daya beli tersebut, muncul fenomena yang disebut fake rich middle class,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (17/3/2026).

Istilah fake rich middle class sendiri disematkan pada masyarakat yang secara kasat mata terlihat mapan memiliki gawai terbaru, sering berlibur, atau aktif mengunjungi kafe dan pusat perbelanjaan.

Baca Juga: Pakar IPB Sebut Kelas Menengah Indonesia Terjebak Duck Syndrome

Namun sebenarnya, mereka memiliki ketahanan finansial yang lemah karena minim tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan.

Tanti menjelaskan, fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan psikologis. Salah satunya pola pertumbuhan ekonomi yang lebih mendorong konsumsi dibandingkan pembentukan aset.

Ia menjelaskan, letika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan.

“Di sisi lain, akses terhadap kredit konsumsi seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay-later semakin mudah,” kata Tanti.

Tekanan sosial juga punya peran dalam fenomena ini. Dalam masyarakat urban yang kompetitif, konsumsi sering menjadi simbol status sosial.

Menurut Tanti, ini sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen.

“Yakni saat konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi cara menunjukkan status sosial, kekayaan atau prestise,” kata Tanti.

Baca Juga: Kelas Menengah Anjlok, Kerja Cuma Bisa Buat Hidup Sehari-hari

Tekanan ini jadi makin besar di era media sosial. Standar gaya hidup yang terlihat di internet seperti liburan, restoran mahal, hingga barang bermerek, sering menjadi tolok ukur kesuksesan.

Kondisi ini pun memunculkan demonstration effect, yaitu kecenderungan individu meniru gaya hidup kelompok lain yang dilihat lebih sukses atau lebih tinggi statusnya di lingkungannya, demi memperoleh pengakuan sosial.

“Keinginan untuk terlihat sukses sering membuat seseorang menampilkan kemakmuran, meskipun kondisi finansial sebenarnya belum stabil,” Tanti mengatakan.

Literasi keuangan yang rendah juga dinilai memperkuat fenomena ini. Banyak orang belum paham dengan benar tentang pentingnya dana darurat, pengelolaan utang, atau investasi jangka menengah dan jangka panjang.

Menurut Tanti, tanpa tabungan, investasi, atau kepemilikan aset produktif, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Ia menegaskan, penguatan kelas menengah pun perlu fondasi yang lebih kokoh.

“Kelas menengah yang kuat bukan hanya ditandai oleh kemampuan konsumsi, tetapi juga kemampuan membangun aset, mengelola risiko, dan menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Leave a Reply