TopCareer.id – Momen Hari Raya Idul Adha biasanya juga dimeriahkan dengan mengolah dan mengonsumsi daging hasil kurban seperti sapi atau kambing.
Namun, pakar mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat.
Mahmud Aditya Rifqi, Pakar Gizi dari Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, konsumsi olahan daging secara berlebihan bisa membebani metabolisme tubuh.
Tubuh manusia akan mengalami lonjakan simultan pada asupan protein, lemak jenuh, kolesterol, purin, dan energi secara bersamaan.
“Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu peningkatan trigliserida, stres oksidatif, surplus energi sementara setelah makan tinggi lemak dan energi,” kata Mahmud, mengutip laman resmi Unair, Rabu (27/5/2026).
Ia menjelaskan, lemak jenuh daging seringkali dianggap sebagai penyebab utama lonjakan instan tekanan darah dan kolesterol.
Baca Juga: Simak, Cara Biar Kamu Gak Ketipu Kalau Mau Kurban Online
Namun Mahmud meluruskan anggapan tersebut dengan menjelaskan bahwa masalah sebenarnya berasal dari keseluruhan pola makan seseorang (overall dietary pattern).
Mahmud menjelaskan, lonjakan tekanan darah atau kolesterol saat Idul Adha biasanya merupakan kombinasi berbagai faktor.
“Adapun faktor tersebut ialah konsumsi garam tinggi, santan, gorengan, porsi berlebih, kurang serat, kurang tidur, dan minim aktivitas fisik,” kata Mahmud.
Secara klinis, para tenaga kesehatan kerap mencatat adanya peningkatan keluhan pasien terkait asam urat, tekanan darah tidak terkontrol, hiperglikemia, hingga gangguan lipid pasca-hari raya.
Meski begitu, dampak terbesar dari konsumsi daging berlebihan sebenarnya bersifat jangka panjang dan kumulatif.
“Jika konsumsi tidak sehat konsisten, ini yang akan menimbulkan masalah. Jika hanya pada hari raya, InshaAllah tidak masalah, selama dibatasi dan tidak berlebihan,” kata Mahmud.
Baca Juga: Tips Biar Kolesterol Tak Naik Usai Santap Hidangan Daging Kurban
Mahmud mengingatkan, Iduladha sebenarnya bisa jadi momen bagi semua kelompok masyarakat, khususnya yang berpendapatan rendah, untuk memperoleh protein hewani berkualitas tinggi.
Kandungan gizi dalam daging merah berguna untuk mendukung pertumbuhan anak, mencegah malnutrisi, membentuk otot, serta mengoptimalkan fungsi imun tubuh.
Karena itu, edukasi yang terbaik bukanlah melarang konsumsi daging, namun mengatur porsi dan waktu konsumsi, serta memilih metode memasak yang lebih sehat, serta jangan lupa mengombinasikannya dengan sayur dan buah.
Mahmud mengatakan, daripada menggunakan pendekatan yang penuh larangan, konsep Isi Piringku bisa jadi panduan makan dengan lebih sehat dan seimbang.
“Sepertiga piring sayur dan buah, membatasi santan dan gorengan, kombinasi dengan menggunakan teknik rebus atau kukus, mengatur porsi daging, memperbanyak air putih, dan menjaga aktivitas fisik,” pungkas Mahmud.






