TopCareer.id – Sebuah perusahaan di Swedia akan membayar karyawannya yang bisa lebih dekat dengan temannya.
Cara ini dilakukan oleh perusahaan farmasi Swedia, Apotek Hjartat, untuk mendorong pekerjanya punya kehidupan sosial yang aktif.
Program bernama “Friendship Hour” itu dibuat sebagai respon terhadap seruan pemerintah, yang mendorong perusahaan membantu masyarakat mengatasi masalah kesepian.
“Dalam bisnis kami, kami melihat kesepian setiap hari, dan para karyawan kami juga akan melewati fase kehidupan ketika risiko kesepian yang tidak diinginkan menjadi paling besar,” kata CEO Monica Magnusson.
Dilansir Yourtango, dikutip Selasa (12/5/2026), program ini memungkinkan karyawan memanfaatkan waktu 15 menit per minggu atau satu jam sebulan selama jam kerja, untuk memperkuat hubungan sosial mereka.
Baca Juga: 10 Negara Terbaik untuk Perempuan Bekerja, Swedia Posisi Pertama
Karyawan boleh menelepon teman, berkirim pesan, atau minum kopi bersama, untuk membantu mempererat pertemanan yang sudah lama atau membangun koneksi baru.
Selain itu, seluruh peserta menerima 1.000 krona Swedia (Rp 1,8 juta) dari perusahaan, untuk digunakan dalam kegiatan sosial selama masa uji coba satu tahun.
Jumlah ini mungkin tidak terdengar besar. Namun, uang tambahan tersebut bisa membantu seseorang yang sedang kesulitan finansial agar tetap bisa berkumpul bersama teman.
Salah satu dari 11 peserta yang ikut uji coba, Yasmine Lindberg, mengaku mendapatkan manfaat dari program tersebut.
Baca Juga: Terlalu Lama Kesepian, Awas Kena Masalah Kesehatan
Ia mengaku sebagian besar waktu luangnya dihabiskan bersama anak-anak remajanya, tetapi sejak berpisah dengan pasangannya beberapa tahun lalu, ia merasa “cukup kesepian.”
“Saya benar-benar lelah ketika pulang ke rumah. Saya tidak punya waktu atau energi untuk bertemu teman-teman,” kata Lindberg kepada BBC.
Lindberg mengatakan, meski waktu dan dana yang diberikan belum cukup untuk sepenuhnya membangun hubungan baru, program itu tetap membantu kondisi sosialnya.
“Saya merasa lebih bahagia. Anda tidak bisa hidup hanya melalui internet seperti yang dilakukan banyak orang saat ini,” ujarnya.






