Tren

Rupiah Melemah, Harga Bahan Pokok hingga Transportasi Dibayangi Kenaikan

Ilustrasi pasar. (Ratna Fitry/Pixabay)

TopCareer.id – Pelemahan rupiah dikhawatirkan bakal berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan bahan bakar di Indonesia.

Saat ini, nilai tukar rupiah per satu dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 17.500.

Rijadh Djatu Winardi, akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan, pelemahan rupiah terjadi sebagai akumulasi dari berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan atau kerap disebut sebagai “perfect storm.”

Ia menjelaskan, sisi global, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong lonjakan permintaan terhadap dolar AS, sehingga investor cenderung menjadikannya sebagai aset aman utama.

Sementara di sisi domestik, ada faktor musiman dan struktural yang semakin menekan nilai rupiah seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang secara rutin meningkatkan kebutuhan valuta asing.

Selain itu, meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas atau defisit yang mendekati batas turut mendorong naiknya persepsi risiko terhadap perekonomian domestik.

“Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam,” kata Rijadh, seperti dilansir laman resmi UGM, dikutip Selasa (12/5/2026).

Melemahnya nilai tukar rupiah pun dinilai berdampak relatif langsung pada harga barang yang jadi konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Pekerja Informal Tinggi, Wamenaker Ingin Generasi Muda Buka Lapangan Kerja

Rijadh menjelaskan, dalam kajian ekonomi fenomena ini dikenal sebagai inflasi impor, di mana pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah.

Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi.

Meski masih memiliki stok lama, kata Rijadh, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari dan umumnya mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujar Rijadh.

Selain itu, pelemahan juga bakal memberikan tekanan pada sejumlah pos dalam anggaran negara, terutama pada belanja yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

Salah satu yang paling terdampak ini adalah subsidi energi, mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.

Rijadh menambahkan, beban utang luar negeri juga menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah.

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.

Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pakar Sarankan UMKM Pakai Kemasan Alternatif

Menurut Rijadh, Bank Indonesia kini dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, di satu sisi menjaga suku bunga tetap relatif rendah penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan biaya kredit tetap terjangkau. Di sisi lain, stabilitas nilai tukar juga harus dijaga.

Karena itu, Rijadh mengatakan pendekatan yang dapat diambil bersifat kombinasi, mulai dari intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga volatilitas rupiah hingga pemanfaatan instrumen keuangan seperti surat berharga guna menarik aliran modal.

“Pendekatan ini menurut saya cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya.

Ia pun menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal melalui disiplin belanja negara dan memperkuat sektor domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada pangan dan energi.

Rijadh menilai, momentum pelemahan rupiah saat ini justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor.

“Yang tidak kalah penting menurut saya adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga,” pungkasnya.

Leave a Reply