Tren

Lowongan Penggembala Domba di China Diserbu 700 Pelamar

TopCareer.id – Seorang pemilik peternakan di China, Zuo Xiaoyong, kaget saat ratusan orang melamar lowongan kerja penggembala domba yang dia pasang di media sosial.

Lebih dari 700 orang melamar untuk dua posisi yang akan bekerja di sebuah padang rumput terpencil di selatan Mongolia tersebut.

Beberapa bahkan termasuk pekerja kantoran dari kota besar seperti Shanghai dan Chongqing, buruh pabrik dari berbagai daerah, hingga lulusan perguruan tinggi.

Iklan lowongan kerja yang dipasang di Weibo itu mendapat 59 juta views hanya dalam hitungan jam, serta memicu 21 ribu topik diskusi. Ini pun menunjukkan tekanan yang semakin besar di pasar kerja Tiongkok.

“Saya tidak menyangka akan viral,” kata Zuo, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2026)

Ia menambahkan, sekitar sepersepuluh pelamar baru saja lulus kuliah, sementara ada juga yang terlilit utang, lelah dengan pekerjaan industri yang berat, atau jenuh dengan politik kantor.

Salah seorang bernama James Guo, mengaku tertarik karena sudah lelah bekerja di pabrik pembuat kontainer pengiriman.

Baca Juga: China Pakai Robot buat Bantu Polisi Atur Lalu Lintas di Musim Liburan

“Anda tidak tahu rasanya bekerja lebih dari 13 jam sehari memasang baut sampai tangan bengkak dan penuh lecet, bahkan tidak sempat ke toilet,” kata pria 21 tahun itu.

“Beban kerjanya terlalu berat, saya sudah tidak tahan lagi.” imbuhnya.

Zuo sendiri mencari pasangan suami istri untuk menjadi penggembala 3.000 domba di padang rumput seluas 2.000 hektare saat musim panas.

Mereka juga akan melakukan pekerjaan berat seperti memberi makan domba dan membersihkan kandang saat musim dingin, di tengah suhu yang bisa mencapai minus 30 derajat Celsius.

Untuk pekerjaan itu, masing-masing penggembala ditawari gaji 8.000 yuan per bulan atau sekitar Rp 21 jutaan, lebih tinggi dari rata-rata gaji pekerja swasta di perkotaan di China yang sekitar 6.000 yuan.

Selain itu, tempat tinggal dan makanan juga disediakan.

“Gajinya memang tinggi, tapi yang penting apakah mereka bisa bertahan lama dan melewati musim dingin,” kata Zuo. “Ini bukan wisata.”

Lynn Song, ekonom utama China di ING mengatakan, respon terhadap iklan lowongan tersebut mencerminkan pasar kerja yang sangat kompetitif, namun minim imbalan.

“Pekerjaan di kota semakin tidak menarik dan semakin sulit ditemukan,” kata Song.

Baca Juga: Sudah Meninggal 8 Jam, Pria China Ini Masih Dikirimi Tugas Kerja

Separuh pelamar lahir pada era 1990-an, kelompok usia yang berada di pusat fenomena yang disebut pekerja China sebagai “kutukan usia 35.”

Berbagai studi menunjukkan banyak perusahaan, termasuk sektor publik, mulai mengabaikan kandidat yang berusia di atas 35 tahun.

Christian Yao, dosen senior manajemen sumber daya manusia Victoria University of Wellington mengatakan, fenomena itu kini meluas dari sekadar meme di sektor teknologi menjadi realitas ekonomi yang lebih luas.

Pada akhirnya, Zuo menerima empat penggembala yang merupakan dua pasangan suami istri. Semuanya lahir tahun 1980-an dan sudah memiliki pengalaman bekerja di peternakan.

Meski masih menyimpan daftar cadangan sekitar 40 pasangan lainnya, Zuo menegaskan dirinya tidak mempertimbangkan pelamar lajang maupun anak muda dari kota besar.

“Di tempat kami, Anda mungkin tidak akan bertemu orang lain selama setahun penuh,” kata Zuo. “Apakah seseorang mampu menahan kesepian seperti itu, saya tidak tahu.”

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button