ProfesionalTren

3 Ciri Bos Narsistik yang Perlu Kamu Tahu

Ilustrasi bos- pemimpin (Pexels)Ilustrasi bos (Pexels)

TopCareer.id – Orang narsistik bisa ada di mana saja, termasuk menjadi seorang pimpinan atau bos. Tidak jarang, individu dengan kecenderungan narsis malah ditempatkan di posisi pimpinan.

Sifat seperti melebih-lebihkan pencapaian, merasa berhak atas kekuasaan, dan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, justru kerap diapresiasi di dunia kerja, sehingga berkaitan erat dengan karakter narsistik.

“Inti dari seorang narsisis adalah fokus pada diri sendiri, untuk diri sendiri, dan kurang berorientasi pada orang lain,” kata Amy Edmondson, profesor Harvard Business School yang meneliti psychological safety di tempat kerja.

“Seseorang yang ingin memimpin orang lain harus berorientasi pada orang lain. Itu dimulai dari kesadaran diri,” ujarnya, seperti dikutip dari CNBC Make It, Rabu (3/6/2026).

Edmondson pun mengungkapkan bahwa ada tiga tanda kamu memiliki bos yang narsistik:

  • Mereka mengklaim semua keberhasilan dan menghindari kesalahan

Edmondson mengatakan, pimpinan narsistik cenderung mengambil kredit atas hal-hal yang berjalan baik, namun menghindari tanggung jawab jika ada hal yang salah atau lebih menyalahkan orang lain maupun faktor eksternal.

Terkadang, ketidakmampuan mereka dalam memberikan apresiasi yang tulus tersamarkan oleh bentuk pujian yang bersifat umum.

Baca Juga: Bos AI Lebih Adil Dibanding Manusia?

“Anda mungkin melihat mereka berterima kasih kepada tim, tetapi tidak secara spesifik, dan tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa semuanya tetap tentang mereka,” kata Edmondson.

Ramani Durvasula, psikolog klinis di Los Angeles menambahkan, bos narsistik biasanya juga merasa terancam jika ada karyawan yang sukses. Hal ini membuat mereka semakin enggan memberikan pujian pada bawahannya.

“Saat memiliki karyawan yang sangat berbakat, alih-alih membantu mereka berkembang, mereka justru merasa terancam dan ingin karyawan tersebut membuat mereka terlihat bagus,” kata Durvasula.

  • Tidak mau mendengarkan

Manajer yang baik biasanya berkomunikasi dengan jelas, namun bukan berarti harus selalu berbicara.

Menurut Durvasula, sangat normal apabila seorang pimpinan banyak menjelaskan dan mengarahkan. Namun hal ini jadi tidak sehat jika mereka mendominasi pembicaraan dan tidak memberikan ruang untuk mendengarkan.

Baca Juga: Mending Nggak Usah Jadi Teman Akrab Bos di Kantor, Ini Alasannya

Seorang manajer yang baik menghargai masukan orang lain, termasuk dari bawahan. Namun bagi narsisis, mendengarkan dianggap membebani karena mereka merasa hanya pendapat mereka yang penting.

“Mereka tidak tampak mendengarkan atau belajar,” kata Durvasula. “Cara berpikir mereka tidak berubah oleh apa yang dikatakan orang lain.”

  • Selalu butuh untuk dikagumi

Bagi seorang dengan kepribadian narsistik, pujian untuk orang lain sering dianggap sebagai ancaman, karena mereka akan merasa iri terhadap kesuksesan orang lain.

“Jika seseorang di tim Anda bekerja dengan baik, secara alami Anda akan menghargainya,” kata Edmondson. “Namun narsisis tidak melihatnya seperti itu. Itu adalah kesempatan yang hilang.”

Bagi mereka, melihat orang lain dihargai atau dikagumi bisa terasa mengganggu, bahkan jika orang tersebut membuat mereka terlihat sebagai manajer yang lebih baik.

Cara menghadapi bos narsistik

Ada beberapa langkah untuk meminimalkan dampak dari bekerja dengan atasan narsistik.

Durvasula menyarankanmu untuk mencari mentor di luar perusahaan yang dapat membantu memberikan perspektif baru.

Selain itu, jika ingin meminta kenaikan gaji atau promosi, jangan terlalu bergantung dengan atasan. Lebih baik untuk menyimpan bukti kontribusimu terhadap sebuah pekerjaan atau proyek.

Saat mengirim ide ke atasan, sertakan juga pihak lain dalam email agar ada jejak komunikasi.

Baca Juga: Begini Cara Hadapi Rekan Kerja Bermuka Dua

“Langkah ini membantu Anda mendokumentasikan hasil kerja,” kata Durvasula. “Email menjadi bukti waktu.”

Namun, langkah-langkah ini hanya membantu mengurangi dampak, bukan mengubah sifat atasan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecenderungan narsistik sangat sulit berubah. Bahkan jika pun berubah, prosesnya akan sangat lambat.

“Dalam banyak kasus, satu-satunya jalan keluar adalah keluar,” kata Durvasula. “Tidak realistis untuk bertahan lama bekerja dengan atasan narsistik.”

Leave a Reply