TopCareer.id – Kecerdasan buatan (AI) kini jadi alasan utama yang banyak digunakan perusahaan di Amerika Serikat (AS) untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Menurut laporan Challenger, Gray & Christmas, lebih dari 97 ribu PHK dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di AS pada Mei 2026.
Jumlah PHK yang diumumkan tersebut merupakan angka tertinggi untuk bulan Mei sejak 2020, ketika pandemi Covid-19 dimulai.
Ini juga menjadi bulan ketiga berturut-turut pada tahun ini di mana jumlah PHK meningkat, naik dari 83.387 PHK pada April, 60.620 pada Maret, dan 48.307 pada Februari.
Pemberi kerja mengatakan AI menjadi alasan utama hampir 40 persen dari PHK yang diumumkan pada Mei.
Angka ini meningkat dari 7 persen pada Januari, 10 persen di Februari, 25 persen pada Maret, dan 26 persen di April.
Jumlah pada Mei membawa total PHK yang terkait dengan AI selama lima bulan pertama tahun 2026 menjadi 87.714 orang, naik dari 54.836 sepanjang tahun 2025.
“AI sekarang menjadi alasan utama yang diberikan perusahaan untuk melakukan pengurangan tenaga kerja,” kata Andy Challenger dalam laporan tersebut, mengutip CNBC Make It, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Meta PHK 8.000 Karyawan di Dunia, Alihkan Fokus Investasi ke AI
Namun, menurut Daniel Keum, associate professor of management di Columbia Business School, ini bukan berarti seseorang harus panik terhadap potensi “kiamat” AI di pasar tenaga kerja.
Keum menyebut, secara makro, pasar tenaga kerja masih “berjalan dengan sangat baik.”
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah pekerja nonpertanian bertambah 172.000 pada Mei, lebih dari dua kali lipat perkiraan konsensus Dow Jones yang sebesar 80.000.
Menurut Keum, dampak AI terhadap pekerjaan masih “sangat terkonsentrasi” pada sektor-sektor tertentu, terutama industri teknologi, yang mencatat 38.242 PHK pada Mei berdasarkan data Challenger.
Daniel Zhao, chief economist Glassdoor, mengingatkan agar tidak langsung menerima klaim perusahaan mengenai PHK terkait AI begitu saja.
“Sebuah perusahaan bisa saja mengatakan bahwa AI adalah alasan mereka melakukan PHK, tetapi itu tidak selalu berarti AI benar-benar menjadi penyebab utama PHK tersebut,” kata Zhao.
Fabian Stephany, assistant professor of AI and work, Oxford Internet Institute kepada CNBC pada Oktober 2025 menyebut, beberapa perusahaan mungkin menjadikan AI sebagai “kambing hitam” untuk membenarkan PHK.
“Saya sangat skeptis apakah PHK yang kita lihat saat ini benar-benar disebabkan oleh peningkatan efisiensi yang nyata,” kata Stephany.
Menurutnya, banyak perusahaan mungkin menggunakan AI sebagai alasan yang mudah diterima untuk membenarkan pengurangan karyawan.
Baca Juga: Disney PHK 1.000 Karyawan, Marvel Kena Imbas
Di sisi lain, Zhao mengakui memang ada banyak perusahaan yang sedang mengubah cara mereka mengalokasikan sumber daya sebagai respons terhadap perkembangan AI.
Artinya, sebuah perusahaan mungkin memangkas pekerjaan di bidang tertentu, tetapi tetap berinvestasi dan merekrut pegawai di bidang lain. Keum pun menyebut PHK di divisi Reality Labs milik Meta sebagai contohnya.
Meski angka pertumbuhan lapangan kerja di AS pada Mei lebih kuat daripada perkiraan, namun kekhawatiran banyak orang terhadap PHK dan rekrutmen yang relatif lesu dalam beberapa bulan terakhir masih tinggi.
Menurut laporan Challenger, perusahaan hanya mengumumkan rencana perekrutan sebanyak 80.742 posisi pada Mei. Laporan tersebut menyebut angka perekrutan itu “secara historis rendah dibandingkan standar sebelum pandemi.”
Thomas Thompson, Kepala Ekonom di Havas Edge, agensi pemasaran kinerja, menyebut, masalah yang dihadapi pekerja adalah bahwa “pekerjaan yang tersedia tidak menggantikan pekerjaan yang hilang.”
Dia mencontohkan, seseorang yang sebelumnya bekerja sebagai insinyur di industri biofarmasi dan kehilangan pekerjaannya karena AI, kemungkinan tidak tertarik untuk bekerja di gudang logistik.
Baca Juga: Oracle Pangkas Puluhan Ribu Karyawan, Staf Dapat Email PHK Jam 6 Pagi
Meski begitu, Zhao menyarankan para pencari kerja untuk “mendiversifikasi pendekatan mereka” dalam menghadapi kondisi pasar saat ini, termasuk dengan mempertimbangkan bidang pekerjaan lain.
Zhao pun menyarankan seseorang untuk mencari pekerjaan yang serupa di industri-industri yang tengah berkembang.
“Saya pikir banyak orang terlalu fokus pada industri atau pekerjaan tempat mereka pernah bekerja sebelumnya,” katanya.
“Padahal banyak keterampilan yang sebenarnya dapat diterapkan di berbagai bidang yang berbeda.”
Mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan kondisi ekonomi, Zhao menambahkan bahwa para pencari kerja harus siap menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
“Akan ada lebih banyak disrupsi di masa depan, baik yang berasal dari AI, ketidakpastian politik, maupun faktor-faktor lain dalam perekonomian, katanya. “Itulah dunia yang kita hadapi saat ini.”






