ProfesionalTren

Demi Naik Gaji, Banyak Pekerja Indonesia Siap Lakukan 2 Hal Ini

Wisnu Dharmawan, Managing Director Indonesia, Jobstreet by SEEK, dalam temu media di Jakarta, Selasa (24/6/2026). (TopCareer.id/Giovani Dio Prasasti)

TopCareer.id – Banyak pekerja Indonesia yang siap pindah kota atau kerja di luar jamnya demi naik gaji. Hal ini diungkap dalam survei Jobstreet by SEEK yang bertajuk Salary Pulse.

Riset ini disusun dari survei online bersama lembaga riset Nature pada Februari 2026 terhadap 1.010 individu profesional di pasar kerja Indonesia, dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun.

Menurut laporan itu, hampir sepertiga pekerja responden bersedia untuk on call di luar jam kerja (29 persen) atau pindah ke kota maupun negara lain (29 persen), demi mendapat naik gaji 10 persen.

“Dengan gaji yang lebih tinggi, karyawan itu juga bersedia untuk melakukan pengorbanan,” kata Wisnu Dharmawan, Managing Director Indonesia, Jobstreet by SEEK, dalam temu media di Jakarta, Selasa (24/6/2026).

Meski begitu, Wisnu juga mengatakan bahwa pekerja Indonesia masih memegang teguh nilai-nilai yang mereka pegang, sehingga tidak asal mengorbankannya demi uang.

Baca Juga: 5 Tips buat Pimpinan biar Tim Tetap Solid Walau Beda Generasi

Hanya 3 persen yang bersedia bekerja di perusahaan dengan toxic culture demi kenaikan gaji 10 persen dan hanya 6 persen yang mau bekerja di perusahaan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai mereka.

Menurut Jobstreet, batasan-batasan ini memperkuat alasan mengapa pekerja di Indonesia memiliki tingkat kebahagiaan tempat kerja rata-rata terkuat di Asia Pasifik.

Adapun, laporan Salary Pulse Jobstreet menyebut bahwa pekerja Indonesia merasa digaji paling adil dan layak, jika dibandingkan dengan wilayah Asia Pasifik lain yang disurvei.

81 persen mengatakan bahwa gaji mereka terasa wajar untuk pekerjaan yang saat ini dijalani.

Namun, terdapat selisih pada tingkat kepuasan, di mana hanya 66 persen responden yang mengaku benar-benar puas dengan nominal gajinya.

Baca Juga: Pasar Kerja Makin Ketat, Job Fair Masih Bisa Jadi Penyelamat?

Ini berarti para pekerja tak hanya ingin tahu jika mereka digaji sesuai standar atau benchmark pasar, tapi juga ingin merasa dihargai atas kontribusi mereka untuk merasa benar-benar digaji dengan baik.

Wisnu mengatakan, gaji adalah faktor mendasar yang membentuk perasaan pekerja di Indonesia terhadap pekerjaan mereka.

Karena itu, kepuasan terhadap gaji adalah area yang krusial untuk dipahami dan ditanggapi serius oleh pemimpin perusahaan, mengingat peran pentingnya dalam mendorong produktivitas serta retensi karyawan yang kuat.

“Ketika para pemimpin mampu menciptakan kesempatan yang transparan untuk mendiskusikan gaji, mereka dapat mengelola ekspektasi dengan lebih baik dan membangun kepuasan finansial yang lebih kukuh di tempat kerja,” ujarnya.

Leave a Reply