ProfesionalTren

Gen Z dan Milenial Lebih Pilih Karier Stabil daripada Cepat Jadi Bos

Ilustrasi Gen Z dan Milenial bekerja. (Dok/Binus)

TopCareer.id – Gen Z dan milenial lebih mengutamakan stabilitas dan kesejahteraan hidup dibandingkan mengejar pertumbuhan karier yang cepat.

Hal ini terungkap dalam sebuah survei yang dilakukan Deloitte bertajuk 2026 Global Gen Z and Millennial Survey.

Survei yang sudah memasuki tahun ke-15 itu melibatkan lebih dari 22.500 responden Gen Z dan Milenial di 44 negara, serta wawancara kualitatif dengan para pimpinan bisnis.

“Temuan tahun ini menunjukkan generasi ini adaptif, pragmatis, dan punya tujuan jelas dalam mendefinisikan kemajuan, meski tekanan ekonomi dan perubahan teknologi yang cepat membuat tantangan semakin besar,” kata Elizabeth Faber, Global Chief People & Purpose Officer Deloitte.

Dalam laporan Deloitte tersebut, biaya hidup jadi kekhawatiran bagi Gen Z dan Milenial selama lima tahun berturut-turut, jauh melampaui isu sosial lainnya. Tekanan finansial membuat banyak rencana hidup tertunda.

Meski tetap ambisius, realitas ekonomi memaksa kedua generasi tersebut mengubah timeline untuk berbagai pencapaian penting.

Lebih dari setengah Gen Z (55 persen) dan milenial (52 persen) mengatakan mereka menunda keputusan besar dalam hidup, seperti membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis, karena kondisi keuangan.

Baca Juga: Gen Z dan Milenial Jadi Pengguna Bank Digital Paling Aktif

Laporan juga mencatat keterjangkauan hunian juga sangat memengaruhi keputusan karier. Sebanyak 69 persen Gen Z dan 64 persen milenial mengatakan ketersediaan atau harga rumah berdampak langsung pada pilihan pekerjaan dan lokasi kerja mereka.

Meski begitu, optimisme finansial tetap ada dengan 53 persen Gen Z dan 45 persen milenial yakin kondisi keuangan pribadi mereka akan membaik dalam setahun ke depan.

Temuan lain juga menyoroti meski banyak dari kedua generasi tersebut berminat jadi seorang pimpinan, mereka merasa ini tidak harus dicapai dengan cepat.

Sama seperti temuan tahun lalu, cuma 6 persen Gen Z dan Milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka. Keraguan ini muncul karena kekhawatiran terhadap konsekuensi yang muncul bersama dengan posisi tersebut.

Mayoritas Gen Z dan milenial memilih perkembangan karier yang stabil (44 persen Gen Z dan 45 persen milenial), dibanding promosi cepat (25 persen Gen Z dan 21 persen milenial).

Sebagian bahkan rela pindah secara horizontal atau mundur selangkah demi menemukan posisi yang lebih cocok (21 persen Gen Z dan 20 persen milenial).

Selain itu, responden juga menilai posisi kepemimpinan punya risiko terhadap kesejahteraan mental.

Baca Juga: Studi Deloitte: 20 Persen Gen Z di RI Putuskan Tak Lanjut Pendidikan Tinggi

Hambatan terbesar untuk menjadi pemimpin adalah stres dan burnout (50 persen Gen Z dan 49 persen milenial), tanggung jawab berlebihan (50 persen Gen Z dan 48 persen milenial), serta kekhawatiran soal keseimbangan kerja dan hidup (41 persen Gen Z dan 46 persen milenial).

Meski begitu, banyak yang tetap tertarik menjadi pemimpin senior di masa depan. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengatakan mereka ingin mengejar posisi kepemimpinan senior pada satu titik dalam karier mereka.

Menurut Faber, Gen Z dan milenial sedang beradaptasi dengan dunia yang sejak awal menuntut ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi tinggi.

“Mereka melangkah maju dengan lebih hati-hati, selektif, dan sesuai cara mereka sendiri,” katanya.

Ia mengatakan, cara kedua generasi menghadapi ketidakpastian, bagaimana mereka mendefinisikan kesuksesan, mempertimbangkan konsekuensi, dan berhubungan dengan perusahaan, akan ikut membentuk norma kerja yang nantinya dihadapi Generasi Alpha.

“Ini menegaskan satu hal: kebutuhan, keinginan, dan ekspektasi tiap generasi terhadap pekerjaan akan terus berubah, dan perusahaan yang mampu mengikuti perubahan itulah yang akan bertahan,” pungkasnya.

Leave a Reply