Tren

Harga Plastik Naik, Pakar Sarankan UMKM Pakai Kemasan Alternatif

Ilustrasi kantung plastik. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Kenaikan harga plastik yang terjadi imbas konflik Timur Tengah dinilai menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi dan melakukan inovasi.

Wisnu Setiadi Nugroho, ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan, kenaikan harga plastik bukan cuma masalah operasional, tapi jadi beban tambahan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

Jika tidak dimitigasi dengan strategi adaptasi yang cepat, ada risiko Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami penurunan atau bahkan gulung tikar.

“Kita harus menyadari bahwa UMKM Indonesia sangat bergantung pada plastik mulai dari kemasan makanan hingga kantong belanja,” kata Wisnu, mengutip laman resmi UGM, Jumat (8/5/2026).

Dia menjelaskan, sekitar 60 hingga 70 persen struktur biaya produk kuliner UMKM kerap dipengaruhi biaya bahan baku dan kemasan. Meroketnya harga plastik pun rentan keuntungan UMKM tergerus.

Menurut Wisnu, penyebab kenaikan harga plastik terjadi karena adanya efek domino pada rantai nilai petrokimia.

Baca Juga: Serangan Siber Berbasis AI Masih Ancam UMKM Indonesia

Pertama, terdapat gangguan logistik dari Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Ketegangan di wilayah ini meningkatkan harga minyak mentah dan gasolin secara global.

Kemudian, terdapa persoalan bahan baku plastik yang merupakan bahan baku turunan.

Plastik diproduksi dari polimer seperti polietilena dan polipropilena yang merupakan produk turunan minyak bumi/gasolin. Ketika harga bahan baku induknya naik, biaya produksi biji plastik otomatis terkerek.

Faktor terakhir kenaikan harga plastik adalah prioritas energi yang disalurkan untuk ketersediaan bahan bakar transportasi dan pemanas, dibandingkan dengan produk turunan petrokimia lainnya.

“Dalam situasi konflik, banyak negara eksportir atau pengolah minyak memprioritaskan ketersediaan bahan bakar untuk transportasi dan pemanas dibandingkan produk turunan petrokimia lainnya,” Wisnu menjelaskan.

Hal ini menyebabkan berkurangnya dan kelangkaan suplai biji plastik di pasar internasional.

Kenaikan harga bahan baku kemasan plastik pun akhirnya menciptakan kelemahan harga jual.

Wisnu mengatakan, dengan masih rapuhnya daya beli masyarakat, naiknya harga jual produk bisa jadi senjata makan tuan. Konsumen pun bisa beralih atau mengurangi konsumsi secara keseluruhan.

Baca Juga: Cara Urus Sertifikasi Halal Online untuk Usaha Mikro dan Kecil

Untuk menyiasati ini, Wisnu pun menyarankan pelaku UMKM untuk beradaptasi, misalnya dengan memakai kemasan alternatif yang harganya lebih stabil seperti kertas, besek bambu, atau kemasan berbahan dasar singkong yang lebih ramah lingkungan,

Pelaku usaha juga bisa mendesain ulang kemasan dengan mengurangi ketebalan atau ukuran plastik tanpa mengurangi kualitas produk.

Strategi lain yang disarankan adalah dengan mendorong masyarakat untuk membawa wadah sendiri, misalnya dengan memberikan sedikit potongan harga untuk konsumen.

Di sisi lain, pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang komprehensif, misalnya dengan insentif pajak bagi UMKM terdampak, menghapus sementara pajak impor bahan baku alternatif non-plastik, hingga intervensi pasar untuk menstabilkan harga biji plastik domestik.

Dibutuhkan juga sosialisasi penggunaan kemasan alternatif dan memberikan pelatihan pengelolaan keuangan, serta strategi pricing bagi UMKM di tengah krisis energi global.

“Melalui dinas terkait, memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM tentang cara mengelola keuangan dan strategi pricing di masa krisis energi,” pungkas Wisnu.

Leave a Reply