TopCareer.id – Angkatan kerja lulusan tahun 2026 menghadapi pasar kerja baru yang semakin menuntut keterampilan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), mulai dari sektor teknologi hingga kerja kreatif.
Menurut platform pencarian kerja untuk entry-level Handshake, pada Maret 2026, 10,3 persen lowongan magang di sana sudah mencantumkan kata kunci terkait AI, termasuk penggunaan tools AI tertentu untuk mendukung pekerjaan.
Handshake juga mencatat 4,2 persen lowongan kerja penuh waktu untuk level awal juga menyebut keterampilan AI, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Mengutip CNBC Make It, Kamis (7/5/2026), laporan mereka mencatat pekerjaan yang perlu keterampilan AI sangat beragam mulai dari posisi teknik hingga pekerjaan kreatif seperti desainer digital.
Ada beberapa keterampilan AI yang banyak ditemukan di beberapa bidang tertentu. 32 persen tercatat dari pekerjaan teknologi; 7,24 persen layanan keuangan; dan 5,4 persen di media dan pemasaran.
Sektor pemerintahan, kesehatan, dan pendidikan yang sebelumnya hampir tidak pernah meminta keterampilan AI sebelum 2024, kini justru mengalami pertumbuhan tercepat.
Baca Juga: CEO LinkedIn: Gelar Belum Tentu Bikin Orang Dilirik di Pasar Kerja Masa Depan
1 dari 10 magang kini meminta keterampilan AI, tetapi mahasiswa merasa butuh lebih banyak dukungan untuk mempelajarinya
Laporan tersebut menyebut, proporsi magang yang butuh keterampilan AI kini lebih tinggi dibandingkan pekerjaan penuh waktu.
Christine Cruzvergara, chief education strategy officer, Handshake mengatakan ini menunjukkan “perusahaan mulai sadar generasi pekerja baru ini punya rasa ingin tahu tinggi terhadap AI dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi tersebut.”
“Mereka mencari talenta muda untuk membantu membangun proses dan alur kerja berbasis AI di organisasi mereka,” kata Cruzvergara.
Mayoritas mahasiswa tingkat akhir kini mengaku sudah terbiasa menggunakan teknologi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan survei Handshake pada lebih dari 1.200 calon lulusan, 36 persen responden menggunakan AI setiap hari, sementara 49 persen lainnya mengakses teknologi tersebut setiap minggu. Hanya 15 persen yang mengaku sama sekali tidak menggunakan AI.
Cruzvergara menambahkan, sebagian besar mahasiswa belajar AI secara otodidak.
Baca Juga: Pasar Kerja Makin Ketat, Job Fair Masih Bisa Jadi Penyelamat?
Namun, banyak mahasiswa merasa kampus belum cukup optimal mengajarkan keterampilan tersebut.
Hanya 28 persen responden yang menilai kampusnya sudah mengintegrasikan AI secara optimal ke dalam proses pembelajaran. Sementara, 58 persen merasa masih perlu keterampilan AI yang lebih baik agar bisa bersaing dan sukses di dunia kerja.
Ali Crawford, analis riset senior di Georgetown’s Center for Security and Emerging Technology mengatakan, institusi pendidikan dan perusahaan kini harus gesit mengejar ketertinggalan dalam melatih tenaga muda soal AI.
Riset Handshake juga melaporkan sekitar 70 persen mahasiswa tingkat akhir yang disurvei tetap yakin mereka akan bisa membangun karier yang diinginkan dalam jangka panjang.
59 persen responden juga percaya akan dapat mencapai target finansial mereka.
Cruzvergara menilai lulusan 2026 punya pola pikir yang “pesimistis dalam jangka pendek tetapi optimistis dalam jangka panjang.” Ini berbeda dengan angkatan sebelumnya yang cenderung lebih pesimistis secara keseluruhan.
“Ini menunjukkan kepercayaan diri generasi ini bahwa mereka bisa menemukan jalan keluarnya. Mereka belajar AI sendiri. Mereka mencari cara untuk terus beradaptasi,” pungkas Cruzvergara.





